Minggu, 16 Muharram 1441 / 15 September 2019

Minggu, 16 Muharram 1441 / 15 September 2019

Dunia Sedang Dikepung Api

Sabtu 24 Agu 2019 01:00 WIB

Red: Joko Sadewo

 Ani Nursalikah

Ani Nursalikah

Foto: Republika/Kurnia Fakhrini
Hutan Amazon di ambang kehancuran.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Ani Nursalikah*

Sungguh mengerikan ketika mengetahui betapa masifnya skala kebakaran hutan hujan tropis Amazon di Brasil. Lebih kaget lagi saat tahu kebakaran itu sudah berlangsung selama kurang lebih tiga pekan.

Kebakaran hutan Amazon di Brasil telah mencetak rekor. The National Institute for Space Research (Inpe) menyebut, kebakaran hutan di sana telah meningkat 83 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2018. Hampir 74 ribu kebakaran tercatat selama tahun ini atau hampir dua kali lipat dari 40 ribu kebakaran tahun lalu.

Organisasi dan peneliti lingkungan mengatakan kebakaran di Amazon akibat petani yang membersihkan lahan. Membakar hutan telah lama dikenal sebagai cara tradisional membuka lahan. Cara ini lebih murah ketimbang menyewa alat berat untuk membersihkan lahan. Namun, konsekuensinya luar biasa jahat.

Direktur Program lembaga swadaya Amazon Watch, Christian Poirier, mengatakan Amazon adalah hutan hujan tropis. Bahkan ketika musim kering, hutan ini tidak mudah terbakar, tidak seperti lahan kering di Kalifornia atau Australia. Itulah yang menguatkan kecurigaannya bahwa kebakaran hutan Amazon di negara bagian Amazonas adalah hasil perbuatan manusia.

Amazon sedang berada di jurang kehancuran. Hutan Amazon memiliki luas 5,5 juta kilometer. Hutan seluas itu mampu menahan hingga 140 miliar metrik ton karbon.

Ketika sebuah pohon dipotong atau dibakar, karbon yang mereka simpan akan dilepaskan ke atmosfer. Tentu saja kapasitas hutan menyerap karbon menjadi berkurang.

Amazon memasok sekitar 20 persen oksigen di bumi. Karena itulah, hutan tropis terbesar di dunia ini menjadi benteng terhadap perubahan iklim.

Selain itu, Amazon juga memiliki konsentrasi keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Dan, sang jago merah sedang melalapnya.

Asap kebakarannya menyebar ke seluruh Brasil dan menutupi sejumlah kota besar. Warga setempat mengunggah foto-foto kebakaran, langit yang gelap, dan air yang hitam di media sosial.

Menurut Copernicus Atmosphere Monitoring Service (Cams) dari Uni Eropa, asap kebakaran mencapai hingga perairan Atlantik. Asap menyebabkan langit di Sao Paulo gelap, padahal jaraknya dari Amazon 3.200 kilometer.

Hal yang sangat disesalkan adalah sikap defensif yang ditunjukkan pemerintahan Presiden Jair Bolosonaro. Bolosonaro dikenal sebagai politikus sayap kanan yang skeptis terhadap perubahan iklim. Dia justru ingin mengubah kebijakan lingkungan Brasil, termasuk membuka hutan Amazon untuk pembangunan dan agribisnis.

Dia justru menuduh organisasi nonpemerintah (LSM) melakukan pembakaran hutan hujan Amazon untuk mencoreng citra pemerintahannya setelah memangkas dana untuk mereka. Dia kemudian mengatakan pemerintah tidak memiliki cukup sumber daya untuk melawan api.

Tudingan itu bahkan ia suarakan tanpa bukti. Pegiat lingkungan menilai pernyataan Bolsonaro merupakan upaya mengalihkan perhatian dari masalah pengawasan pemerintah yang buruk dan dorongan membuka hutan secara ilegal. Sejak Bolsonaro mengambil alih kekuasaan, badan lingkungan menegakkan lebih sedikit hukuman.

Terbakarnya Amazon sempat menjadi trending topic di Twitter dengan tagar tagar #prayforamazonia, #amazonfire, #prayforamazonas. Sosok terkenal, seperti penyanyi Madonna, pesepakbola Cristiano Ronaldo, penyanyi Ariana Grande, dan juara F1 Lewis Hamilton turut meramaikan tagar itu.

Amazon tidak sendirian. Lebih dari 9.000 orang dievakuasi ketika api menyebar di Kepulauan Canary di Spanyol. Kebakaran hutan juga melanda Alaska.

Denmark menerjunkan pemadam kebakaran ke Greenland untuk membantu mengendalikan api. Kebakaran hutan besar juga melalap Siberia, Yunani, Turki, dan Prancis.

Seiring perubahan iklim, periode panas ekstrem juga bertambah panjang, lebih sering, dan intens. Panas membuat vegetasi rentan terbakar.

Belum lagi ditambah deforestasi yang mengganggu siklus alami air di beberapa kawasan. Manusia juga membangun rumah semakin dekat dengan kawasan hutan.

Di dalam negeri, api juga menghanguskan hutan kita. Di sebagian wilayah Sumatra, Aceh, dan Kalimantan, kebakaran hutan sudah bukan hal asing ketika musim kemarau.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, kabut asap alias jerubu akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bakal mengancam sebagian wilayah Asia Tenggara pada pekan-pekan mendatang. Berdasarkan hasil pemantauan selama dua pekan terakhir (25 Juli-5 Agustus 2019) BMKG mengidentifikasi sekitar 18.895 titik panas di seluruh Asia Tenggara dan Papua Nugini. Asap dari Indonesia bahkan sudah melintasi batas hingga ke negara tetangga Malaysia dan Singapura.

Beberapa foto kebakaran di berbagai lokasi di dunia yang penulis lihat di sebuah situs berita sangat memilukan. Tampak api menguasai sebuah pohon cemara yang sangat tinggi di Pulai Evia, Athena, Yunani. Hanya ada warna merah, oranye, dan hitam di foto itu.

Di lain foto, seorang pria tampak putus asa menyelamatkan kambingnya. Dia hanya mampu menyeret kambing itu. Di media sosial bahkan ada foto buaya, kelinci, dan rusa yang terpanggang.

Penulis jadi teringat Surah Ar Ruum ayat 41 yang mengatakan “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Ayat itu dengan jelas menunjukkan kerusakan lingkungan disebabkan perbuatan maksiat manusia.

*) Penulis adalah jurnalis republika.co.id

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA