Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Setelah BRIsat, Satelit Kedua Pun Siap Meluncur

Jumat 23 Aug 2019 17:18 WIB

Red: Elba Damhuri

Satelit BRIsat

Satelit BRIsat

Foto: dok. BRI
Satelit kedua ini tidak dimiliki BRI tetapi oleh partner strategis BRI, Satkomindo.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Satelit BRIsat yang diluncurkan Bank Rakyat Indonesia (BRI)  pada18Juni 2016 lalu telah menyediakan jaringan komunikasi untuk beragam pelayanan perbankan BRI. Perkembangan perbankan digital yang semakin maju dan spesifik agar bisa menembus pelosok Tanah Air berdampak pada makin urgennya peran satelit.

Direktur Teknologi Informasi dan Operasi Bank BRI Indra Utoyo mengatakan kebutuhan bandwith jaringan BRI untuk layanan perbankan makin tinggi. Karena itu, kata Indra, BRI membutuhkan satelit baru yang pengelolaan dan kepemilikannya berbeda dengan satelit pertama, BRIsat.

"BRI tidak akan memiliki dan meluncurkan satelit baru, namun kita akan menggandeng partner strategis kita dalam hal ini PT Satkomindo Mediyasa," kata Indra saat berbincang di Jakarta, Kamis (22/8).

Satkomindo sejak 2002 telah fokus berbisnis di bidang pengoperasian satelit sebagai operator Very Small Aperture Terminal (VSAT). Satkomindo memiliki lisensi Penyelenggara Jaringan Tetap Tertutup (JARTUP) dan pada 2019 telah mendapatkan persetujuan Kominfo sebagai pengelola slot orbit satelit geostasioner di Indonesia yang telah terdaftar di badan International Telecommunication Union (ITU).

Indra menjelaskan Satkomindo akan menjadi strategic partner bagi Bank BRI untuk pemenuhan reliabilitas dan kebutuhan jaringan komunikasi di masa mendatang. Hal ini perlu dilakukan agar BRI dapat lebih fokus pada transformasi digital yang akan menjadi kunci pada strategi dan bisnis di masa mendatang.

Indra menegaskan pemenuhan kebutuhan jaringan komunikasi satelit melalui Satkomindo akan memberikan fleksibilitas ketersediaan kapasitas. Tentu, lanjut dia, dengan biaya operasi yang kompetitif dan kinerja yang andal.

“Pembuatan satelit HTS baru diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 36 bulan sehingga kemungkinan satelit tersebut akan meluncur di akhir tahun 2023,” jelas Indra

CEO Satkomindo Mediyasa, Abing Rabani, mengungkapkan sebagai strategic partner BRI, Satkomindo akan meluncurkan satelit baru berteknologi High Throughput Satellite (HTS). Satelit ini berkapasitas sekitar 150 Gigabit per second (Gbps) dengan menggunakan spektrumfrekuensi Ku- dan Ka-band.

Sebagian kapasitasnya akan digunakan BRI dan sebagian kapasitas lainnya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan layanan internet Indonesia. "Dengan begitu membantu mengurangi shortage supply transponder satelit di Tanah Air," kata Abing di tempat yang sama.

Hasil studi PT Telkom dan Euro Consult pada 2013 menunjukkan bahwa Indonesia mengalami kekurangan supply transponders atelit domestik lebih dari 200 TPE per tahun. Di masa mendatang, Indonesia diprediksi tetap akan mengalami kekurangan supply kapasitas HTS.

Menurut studi SAT consult (Group of Euroconsult) dan Northern Sky Research (NSR), kebutuhan kapasitas satelit HTS di Indonesiasaat ini telah melebihi 1.000 Gbps dan akan terus bertambah. Satelit HTS oleh Satkomindo ini hanya menyuplai sebagian kecil dari seluruh kebutuhan satelit HTS di Indonesia.

Oleh karena itu, kata Abing, satelit HTS Satkomindo dapat digunakan untuk melayani keperluan ekosistem BRI, dan dapat juga digunakan oleh institusi pemerintah dan masyarakat umum.

Satkomindo saat ini dalam prosespenjajakan kerjasama dengan operator satelit domestik, operator satelit internasional, danmanufaktur satelit internasional yang telah berpengalaman dalam desain, manufaktur, danpengoperasian satelit HTS.

Sebanyak 18 operator satelit dan 9 manufaktur satelit internasional telah menyatakan minatnya untuk ikut berpartisipasi dalam seleksi sebagai partner Satkomindo. Melalui mekanisme partnership, maka akses teknologi HTS akan dapat dilakukan dengan lebih cepat.

Satelit BRIsat
Indra mengatakan BRI menggarap segmen UMKM terutama bisnis mikro, outlet, ATM, dan Agen BRILink, yang juga berada di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) yang belum terjangkau  jaringan komunikasi. Dengan adanya satelit BRIsat, kata Indra, perseroan dapat memastikan implementasi strategi bisnis BRI tidak mengalami kendala.

Layanan satelit BRIsat juga terasa manfaatnya pada saat gangguan aliran listrik sebagaimana terjadi blackout di Jakarta dan sekitarnya beberapa waktu lalu. Indra menyatakan peran satelit BRIsat juga tampak pada saat terjadi bencana alam seperti gempa bumi di Palu dan Nusa Tenggara.

Sepanjang unit kerja BRI memiliki sumber listrik alternatif seperti genset, kata Indra, layanan BRI tetap beroperasi. Hal ini dapat dilakukan karena jaringan komunikasi BRI tidak melalui jaringan teresterialyang ikut terdampak akibat bencana atau gangguan melainkan langsung terhubung ke satelit BRIsat.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA