Saturday, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Saturday, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Rupiah Melemah ke Posisi Rp 14.250 Per Dolar AS

Jumat 23 Aug 2019 11:15 WIB

Red: Nidia Zuraya

Ilustrasi Rupiah Melemah

Ilustrasi Rupiah Melemah

Foto: Foto : MgRol112
Minimnya sinyal pemangkasan suku bunga the Fed lanjutan membuat rupiah terdepresiasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat (23/8) pagi ini mengalami pelemahan. Rupiah terpengaruh sentimen eksternal menyusul minimnya sinyal dari the Fed untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga.

Baca Juga

Kurs rupiah terhadap dolar AS melemah 15 poin. Rupiah melemah menjadi Rp 14.250 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp 14.235 per dolar AS.

Kepala Riset Monex Investindo Future Ariston Tjendra mengatakan sejumlah mata uang dunia, termasuk rupiah terdepresiasi seiring The Fed yang tampaknya belum akan melakukan penurunan suku bunga acuan (Fed fund rate) dalam waktu dekat.

"The Fed dipandang hawkish sehingga menopang dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia," katanya di Jakarta, Jumat (23/8).

Ia mengemukakan bahwa hasil notulensi Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memberikan sinyal pemotongan suku bunga the Fed akan dilakukan hati-hati mengingat ekonomi Amerika Serikat dinilai masih cukup solid.

Kendati demikian, menurut dia, pelemahan rupiah relatif masih terbatas setelah Bank Indonesia secara mengejutkan melakukan pemotongan tingkat suku bunga acuan atau BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

"Langkah BI itu merupakan persiapan di tengah perlambatan ekonomi global, diharapkan juga turut mendukung pertumbuhan ekonomi dan menjaga tingkat inflasi tetap rendah," katanya.

Direktur Utama Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan masih panasnya tensi perang dagang juga menjadi salah satu faktor penahan bagi laju mata uang nasional. "Untuk kesekian kalinya, Presiden AS Donald Trump kembali menyatakan bahwa dirinya berani melawan praktek perdagangan curang yang selama ini dieksekusi oleh China. Ini bukanlah perang dagang saya, ini adalah sebuah perang dagang yang harusnya sudah berlangsung sejak dulu," paparnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA