Rabu, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 Desember 2019

Rabu, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 Desember 2019

BMKG: Sejumlah Daerah di Sumbar Mulai Kekeringan

Kamis 22 Agu 2019 16:55 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Kekeringan

Kekeringan

Foto: Antara
BMKG mengingatkan pemangku kepentingan untuk mengantisipasi dampak kekeringan Sumbar.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Iklim Sicincin Sumatra Barat mengungkapkan sejumlah daerah di provinsi itu mulai mengalami kekeringan. Di sana, hujan sudah tak turun sejak dua bulan terakhir.

"Tidak hanya daerah zona musim, tetapi daerah pesisir pantai juga mengalami penurunan curah hujan," kata Pengamat Meteorologi Geofisika Analisis Iklim BMKG Staklim Sicincin Rizky A Saputra di Padang, Kamis.

Rizky menyampaikan, daerah yang mengalami kekeringan, antara lain Kabupaten Dharmasraya, Kota Bukittinggi, Kota Padang, Kabupaten Limapuluh Kota, Pasaman, Pesisir Selatan, Sijunjung, Solok, Solok Selatan, dan Tanah Datar. Masyarakat di sejumlah daerah itu mulai merasakan dampak penurunan ketersediaan air.

"Daerah Sitiung di Kabupaten Dharmasraya saat ini mengalami hari tanpa hujan yang sangat panjang, sudah lebih dari 30 hari," kata dia.

Rizky mengatakan, daerah Koto Besar dan Koto Salak di Dharmasraya hingga saat ini sudah lebih dari 20 hari tanpa hujan. Hari tanpa hujan dengan kategori sangat panjang, yaitu 30 sampai 60 hari, harus diwaspadai sehingga tidak menimbulkan dampak kerugian yang lebih besar.

"Oleh sebab itu, langkah-langkah mitigasi dan adaptasi perlu untuk disiapkan dalam mengatasinya," katanya.

Di Sangir Jujuhan di Solok Selatan, menurut Rizky, tercatat hari tidak hujan selama 31 hari dengan jumlah curah hujan 47,5 milimeter dalam 50 hari. Sedangkan, sejak Juli hingga saat ini hujan turun hanya tiga hari.

"Bahkan berdasarkan data yang dihimpun di daerah Sungai Kunyit Sangir Balai Janggo juga sudah mulai krisis air bersih," kata dia.

Oleh karena itu, menurut Rizky, pemangku kepentingan terkait harus mewaspadai dampak kekeringan pada sektor pertanian. Sekitar 100 hektare areal persawahan warga di Nagari Bidar Alam, Kecamatan Sangir Jujuan, di Solok Selatan terancam gagal panen karena turunnya debit air Sungai Batang Sangir sehingga tidak mampu mengaliri pertanian masyarakat.

BMKG memperkirakan dalam 10 hari ke depan peluang curah hujan hanya kategori rendah hingga menengah. Untuk itu, Rizky mengingatkan perlunya antisipasi penyesuaian pola tanam di daerah musim kering pada sawah tadah hujan dengan menyesuaikan tanaman, seperti hortikultura berumur pendek, atau menunda tanam.

Selain itu, Rizky mengatakan perlu pencegahan kebakaran hutan dan lahan dengan sosialisasi secara terus menerus kepada masyarakat untuk tidak membakar lahan atau ladangnya agar titik api di Sumatra Barat rendah.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA