Rabu, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Rabu, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Pemerintah Diminta tak Gegabah Memutuskan Impor Jagung

Kamis 22 Agu 2019 06:49 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nidia Zuraya

Petani menjemur buah jagung hasil panen. ilustrasi

Petani menjemur buah jagung hasil panen. ilustrasi

Foto: Antara/Destyan Sujarwoko
Harga jagung lokal lebih kompetitif dibandingkan jagung impor

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat Ekonomi Politik Pertanian Universitas Trilogi, Muhamad Karim menilai, harga jagung lokal lebih baik jika dibandingkan harga jagung impor. Menurut dia, saat ini jagung lokal kualitasnya juga sudah lebih baik.

Baca Juga

"Pada musim kemarau ini bisa buat jagung lokal kualitasnya jauh lebih bagus, kandungan protein jauh lebih tinggi, lebih segar, tidak kopos-kopos dan lebih diminati peternak. Harga bisa bagus," ujar Karim dalam siaran pers yang diterima Republika, Kamis (22/8).

Menurut dia, apabila terjadi kenaikan harga pun hal tersebut masih dalam taraf wajar. Sebab secara perspektif ekonomi, kondisi di mana barang yang berkualitas dan tinggi peminatnya akan diikuti dengan kenaikan harga. Karim menekankan kondisi harga itu juga bukan karena stok atau produksi yang tidak mencukupi.

Oleh karena itu ke depannya, dia mengimbau kepada pemerintah agar tidak gegabah dalam mengambil kebijakan impor sebab nantinya akan merugikan petani. Berdasarkan catatan Kementerian Pertanian (Kementan), target produksi jagung hingga akhir tahun 2019 ini sebanyak 33 juta ton. Target tersebut naik dari realisasi 2018 sebesar 28,92 juta ton.

"Artinya dari produksi jagung lokal dapat digunakan untuk kebutuhan konsumsi maupun kebutuhan lainnya. Kalau impor akan rugi karena dalam transaksi kan pakai kurs asing," ujarnya.

Sekretaris Dewan Jagung Nasional (DJN) Maxydul Sola mengatakan, pemerintah saat ini harus fokus dalam peningkatan produktivitas jagung di dalam kawasan sentra-sentra jagung. Hilirisasi dan alat alat pasca panen dan pergudangan disiapkan untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga jagung di dalam negeri. Menurut dia harga beli di petani masih cukup baik yakni di atas Rp 3.150 per kilogram (kg).

"Kondisi saat ini ada pertanaman dan produksi jagung cukup sesuai kebutuhan bulanan. Ini kita lakukan bersama semua pihak, kita di DJN bekerja bareng, membangun kemitraan petani dengan pelaku usaha," ujarnya.

Sola menyebutkan, rata-rata produktivitas jagung lokal sekitar 6 ton per hektare. Karena itu, DJN mendukung untuk produktivitas naik menjadi 8 hingga 10 ton per hektare. Menurut dia banyak sentra produksi yang sudah bisa mencapai target produktivitas tersebut, seperti Sumbawa, Dompu, Sulawesi Selatan, Lampung, dan Gorontalo.

"Sekarang kita sudah membuat sentra-sentra jagung setiap wilayah dan penanaman terus dilakukan. Selain di lahan sawah juga di lahan kering dan perkebunan. Sejauh ini tidak ada masalah," katanya.

Sola mengatakan untuk meningkatkan areal tanam di musim kemarau, DJN mendorong pembuatan embung dengan dana Desa serta menggunakan Pompa air tanah dalam dengan pengembangan pengairannya pakai sprinkler agar terhindar dari kekeringan. Untuk tambahan areal tanam baru diadakan kerja sama dengan Pondok Pesantren serta pemanfaatan lahan Perhutani yg dikelola oleh LMDH dengan pola Kemitraan tertutup

"Saat ini Pabrik pakan Gudang gudang dalam kondisi penuh serta pasokan tetap mengalir sehingga pabrik kesulitan mengatur truk yang antri membongkar jagung," terang Sola.

Country Director PT Cargill Indonesia Ivan Hindarko menyatakan, Cargill memiliki kapasitas 700 ribu ton jagung. Produsen pakan ternak pun masih berkomitmen untuk menggunakan bahan baku jagung lokal dan belum menemui kendala dalam sisi suplai.

"Kita masih komitmen menggunakan bahan baku lokal dan mengakui adaya kelebihan mutu di jagung lokal kita," jelasnya.

Selain kandungan protein jagung lokal lebih tinggi 7,0 hingga 7,5 persen dibandingkan jagung impor,  menurut Dean Novel dari Koperasi Dinamika Nusra Agribisnis (DNA), pihaknya kini tengah mengembangkan Jagung Rendah Aflatoksin (JRA) yang diupayakan dapat diproduksi di dalam negeri dalam skala ekonomi.

"DNA di Lombok Timur sudah mengirimkan sebanyak 120 ton JRA ke PT Green Fields. Bahkan JRA lokal diakui oleh Green Fields tidak kalah mutunya dengan JRA impor," cetusnya.

Perlu diketahui, pemerintah saat ini sudah melakukan berbagai upaya mitigasi dengan menggerakkan tanam di musim kemarau ini. Neraca produksi jagung pun masih aman dibandingkan tahun lalu. Luas tanam di periode Januari-Juli tahun ini juga masih aman seperti tahun lalu.

"Artinya tidak perlu ada kekhawatiran stok jagung berkurang karena kemarau ini," pungkas Novel.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA