Friday, 21 Muharram 1441 / 20 September 2019

Friday, 21 Muharram 1441 / 20 September 2019

Riset Bappenas Bukti Pertanian Berkontribusi Bangun Negara

Rabu 21 Aug 2019 17:28 WIB

Red: EH Ismail

ekonom Universitas Islam Bandung (Unisba), Rabiatul Adawiyah

ekonom Universitas Islam Bandung (Unisba), Rabiatul Adawiyah

Foto: Humas Kementan
Riset ini pun selaras dengan capaian pembangunan pertanian

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) telah merilis hasil riset tentang efektivitas belanja kementerian dan lembaga pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi. Hasil riset menyimpulkan Kementerian Pertanian (Kementan) sebagai salah satu instansi yang efektif memanfaatkan anggaran belanjanya dan berdampak paling tinggi dalam memacu pertumbuhan ekonomi.

Tentang hal ini, ekonom Universitas Islam Bandung (Unisba), Rabiatul Adawiyah mengungkapkan dalam riset Bappenas yang dimaksud, belanja barang Kementan berupa alat mesin pertanian lebih besar dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi di pedesaan ketimbang belanja barang Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berupa pengadaan kapal. 

Setiap peningkatan 1 persen belanja alsintan, maka mendorong 0,33 persen peningkatan subsektor pertanian, peternakan, perburuan, dan jasa pertanian di daerah. Sementara dengan setiap peningkatan 1 persen belanja pengadaan kapal, hanya dapat mendorong 0,33 persen terhadap peningkatan subsektor perikanan di daerah.

Torehan ini tentu sangat signifikan dengan program terobosan dan implementasinya di lapangan. Karena Mentan Amran Sulaiman sangat serius mengembalikan kejayaan pertanian Indonesia. Faktanya pertanian Indonesia saat ini menjadi modern. 

“Alat mesin pertanian modern tidak hanya di Jawa atau sentra produksi, tapi sudah sampai ke lahan pertanian yang ada di pelosok atau perbatasan,” demikian dijelaskan Rabiatul di Bandung, Rabu (21/8).

Menurut Sekretaris Pusat Hak Kekayaan Intelektual dan Inovasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Unisba ini, selain dari program terobosan dan fakta di lapangan, hasil riset Bappenas pun selaras dengan capaian pembangunan pertanian yang mengangkat kinerja makro perekonomian. Misalnya, dengan menganalisa data yang dihasilkan BPS, ekspor komoditas pertanian tahun 2013 hanya 33 juta ton, namun di tahun 2018 melonjak tajam menjadi 42,5 juta ton sehingga ada kenaikan 9 juta ton dan rata-rata kenaikan ekspor per tahunnya 2,4 juta ton. Di tahun 2019, di pelbagai pemberitaan menyebutkan Mentan Amran menargetkan kenaikan ekspor sebanyak 45 juta ton.

"Saya kira target ini optimis bisa dicapai karena semua infrastruktur dan kebutuhan petani lainnya sudah terbangun di era pemerintahan Jokowi-JK. Tidak lagi baru tahap membangun atau menyediakan apa yang dibutuhkan petani. Buktinya Pak Jokowi menyaksikan sendiri pertanian di kabupaten Sumatera Utara sudah menggunakan alat mesin pertanian modern," terangnya.

Kedua, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menegaskan berdasarkan Global Food Security Index 2018, peringkat ketahanan pangan Indonesia membaik yakni dari 72 di tahun 2014 menjadi 65 di tahun 2018 dari 113 negara. Data ini tentunya didukung fakta, dimana penyediaan makanan bagi masyarakat dan bahan baku bagi beberapa industri, sehingga tidak terjadi gejolak harga. Kondisi ini dibuktikan oleh data BPS yang menyebutkan terjadi penurunan inflasi bahan makanan yakni dari tahun 2013 sebesar 11,71 persen menjadi 1,26 persen di tahun 2017.

"Kedua fakta ini merupakan contoh nyata ketersediaan pangan kita berhasil dijamin pemerintah. Hal ini terjadi salah satunya karena belanja barang Kementan benar-benar efektif dan tepat dalam memacu peningkatan produksi," tegas Rabiatul.

Karena itu, Rabiatul berharap dengan rentetan keberhasilan ini dan merujuk hasil riset Bappenas ini, agar pembangunan pertanian ke depan dapat berkelanjutan dalam periode berikutnya, Kementan minimal harus dinakhodai oleh pemimpin seperti saat ini. Tidak hanya sekedar teori, tapi hasil nyatanya jelas memberikan kemaslahatan seluruh umat.

“Jika hal di atas terjadi, bukan sesuatu yang mustahil jika pertumbuhan ekonomi 7 persen dapat diwujudkan dan nilai gini ratio Indonesia semakin mengecil. Apalagi pengurusan izin ekspor dan apapun di Kementan saat ini sudah berbasis online dan satu pintu. Kemajuan bisnis pertanian pun saat ini patut apresiasi,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Keuangan Negara dan Analisis Moneter, Bappenas, Boediastoeti Ontowirjo mengatakan program Kementan berhasil memacu pertumbuhan ekonomi di daerah lewat belanja alat mesin pertanian (alsintan) dan input produksi. Belanja ini dilakukan oleh Kementerian Pertanian yang dipimpin Menteri Pertanian Amran Sulaiman. 

"Dalam perencanaan ke depan, belanja barang yang produktif dapat menjadi terobosan ketimbang belanja modal untuk diterapkan di semua kementerian dan lembaga, sehingga belanjanya lebih kualitatif yakni menumbuhkan perekonomian sektoral daerah dan mengatasi ketimpangan daerah," jelasnya.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA