Sunday, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 January 2020

Sunday, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 January 2020

Presiden Siapkan Strategi Khusus untuk Mahasiswa Papua

Rabu 21 Aug 2019 08:07 WIB

Red: Budi Raharjo

Staf Khusus Presiden, Lenis Kogoya

Staf Khusus Presiden, Lenis Kogoya

Foto: Muhammad Rizki Triyana
Presiden diminta berdialog secara langsung dengan masyarakat Papua.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seturut kericuhan yang terjadi di Papua dan Papua Barat sejak Senin (19/8) hingga Selasa (20/8), sejumlah pihak menjamin keamanan pada mahasiswa Papua yang mengambil studi di wilayah mereka. Presiden Joko Widodo disebut secara khusus akan memberikan perhatian pada mahasiswa-mahasiswa tersebut.

Staf Khusus Presiden untuk Papua Lenis Kogoya menuturkan, ia telah dipanggil Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membicarakan persoalan kericuhan di Papua dan Papua Barat belakangan. Salah satu yang dibahas dalam pertemuan itu, soal strategi khusus terkait para mahasiswa Papua.

"Pola asrama kita perhatikan, pola hidup diperhatikan, terus pendidikan juga diperhatikan. Jadi, ini kejadian ini (kisruh) tidak terulang lagi ke depan. Itu yang saya laporkan," ujar Lenis selepas bertemu Presiden di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (20/8).

Lenis juga menyoroti kurangnya perhatian pemerintah terhadap pendidikan dan asrama bagi mahasiswa Papua. Dalam pertemuan itu, Lenis juga meminta agar Jokowi berdialog secara langsung dengan masyarakat setempat. "Untuk berdialog, berdiskusi dengan masyarakat Papua. Mudah-mudahan minggu depan atau bulan inilah," ujar dia.

Aksi protes sebelumnya terjadi secara serentak di Sorong dan Manokwari, Papua Barat, dan di Jayapura, Papua. Aksi tersebut digelar mahasiswa lokal dan masyarakat guna mengecam aksi rasialis yang disebut dialami mahasiswa Papua di asrama mahasiswa Papua di Surabaya, akhir pekan lalu. Meski aksi di Jayapura berjalan damai, di Sorong dan Manokwari aksi berujung kericuhan.

Sejak tiga tahun belakangan, penangkapan terhadap mahasiswa Papua di kota-kota besar di luar Papua sering terjadi. Pada akhir tahun lalu, misalnya, sebanyak 233 mahasiswa Papua di Surabaya sempat juga ditahan. Penangkapan-penangkapan ini biasanya menyusul aksi-aksi mereka menuntut referendum atau mempertanyakan status Papua di Indonesia.

Bagaimanapun, selepas kericuhan kemarin, berbagai pemerintah daerah menjanjikan keamanan bagi para mahasiswa Papua. Di Malang, kota tempat terjadi bentrok mahasiswa Papua dan warga pada Kamis (15/6), Wali Kota Malang Sutiaji menyatakan hal itu dalam pertemuan dengan perwakilan mahasiswa asal Papua pada Selasa (20/8).

"Saya tadi berdialog dengan RRI Manokwari, ada kegelisahan dari orang tua mahasiswa. (Pertemuan) ini, merupakan bukti bahwa semuanya aman," kata Sutiaji, di Kota Malang, kemarin.

Ia meminta seluruh masyarakat Kota Malang untuk menjaga kondisi agar bentrokan tidak terjadi lagi di wilayah itu. "Jangan sampai terulang lagi. Ayo saling mendukung, bagaimana anak bangsa ini bisa belajar di Kota Malang dengan tertib, aman, dan nyaman," ujar Sutiaji.

Sementara, seorang mahasiswa asal Papua di Malang, Mauridz Jimmy Taran, mengatakan bahwa selama ini ia dan rekan-rekan selalu merasa aman dan nyaman. "Selama hampir empat tahun, saya merasa aman dan nyaman. Perlakuan warga kepada kami juga baik," kata Mauridz. Ia berharap tak ada lagi masyarakat Papua yang terprovokasi.

Sejumlah kepala daerah lain juga menyatakan jaminan serupa untuk para mahasiswa dari Papua. Diantaranya Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi, dan Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah.

Sementara itu, dalam gestur rekonsiliasi, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyuguhkan makanan khas asal Papua, papeda, saat menemui Lenis Kogoya di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin petang. "Ini namanya diplomasi papeda," ujar Khofifah. Keduanya kemudian mendatangi belasan perwakilan mahasiswa dan pelajar Papua yang diundang pada pertemuan tersebut.

Khofifah menekankan, proses untuk mendinginkan situasi, agar pihak- pihak yang pernah terlibat bentrokan bisa saling memaafkan, terus dilakukan. "Proses sudah berjalan. Kami juga sudah silaturahim dengan keluarga Papua. Jadi, seluruh ikhtiar dilakukan. Semua lini akan berusaha karena suasana harus kita bangun secara kondusif, saling mam berikan kesepahaman, saling percaya, dan saling menghormati," kata Khofifah.

Terkait keberadaan mahasiswa Papua di Jatim, ia berencana menggagas pendirian asrama mahasiswa nusantara. Asrama tersebut nantinya akan menghimpun mahasiswa dari berbagai daerah. "Kita akan siapkan, misalnya diplot Papua berapa, Kalimantan berapa, Sulawesi berapa. Kan kita ini kebinekaannya banyak yang lapis-lapis luar, belum kebinekaan substantif," ujar Khofifah di rumah dinas Kapolda Jatim, Jalan Bengawan, Surabaya, Senin (19/8) malam. (dessy suiati saputri/dadang kurnia/antara ed: fitriyan zamzami

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA