Selasa, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Selasa, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Cegah Impor, Kementan Genjot Produktivitas Jagung

Selasa 20 Agu 2019 18:02 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolanda

Petani memanen jagung yang sudah dikeringkan di Desa Handap Herang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Jumat (2/8/2019).

Petani memanen jagung yang sudah dikeringkan di Desa Handap Herang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Jumat (2/8/2019).

Foto: Antara/Adeng Bustomi
Target produksi jagung hingga akhir tahun sebanyak 33 juta ton.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan mulai meningkatkan fokus komoditas jagung pada peningkatan produktivitas. Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementan, Suwandi, mengatakan, produktivitas harus segera ditingkatkan untuk menjaga stabilisasi pasokan dan harga jagung di dalam negeri. 

"Kita harus pastikan produksi jagung cukup sesuai kebutuhan bulanan. Luas tanam kita tingkatkan, tapi produktivitas juga harus bagus," kata Suwandi kepada Republika.co.id, Selasa (20/8). 

Baca Juga

Ia mengatakan, rata-rata produktivitas jagung lokal saat ini sekitar 6 ton per hektare. Kementan menargetkan produktivitas naik menjadi 8-9 ton per hektare. Saat ini, kata Suwandi, beberapa sentra sudah bisa mencapai target produktivitas tersebut. Tercukupinya kebutuhan jagung akan semakin menjauhkan Indonesia dari keran impor jagung yang merugikan petani.

Lebih lanjut, Suwandi menuturkan bahwa pola tanam jagung mengikuti pola tanam yang dilakukan pada komoditas padi. Dimana, penanaman dilakukan secara terus menerus sehingga musim panen terus berlanjut sepanjang tahun.

Target produksi jagung hingga akhir tahun sebanyak 33 juta ton atau naik dari realisasi 2018 sebesar 28,92 juta ton. Adapun kebutuhan jagung untuk pakan ternak tahun ini diperkirakan sebesar 7 juta ton. Sisa dari produksi jagung lokal dapat digunakan untuk kebutuhan konsumsi maupun kebutuhan lainnya. 

Mengenai harga, Suwandi mengatakan, sesuai acuan pemerintah harga ideal jagung sebesar Rp 3.150 per kilogram (kg). Harga tersebut secara nasional sudah menguntungkan petani dan para pengguna jagung. 

"Sekarang kita sudah membuat sentra-sentra jagung setiap wilayah dan penanaman terus dilakukan. Selain di lahan sawah juga di lahan kering dan perkebunan. Sejauh ini tidak ada masalah," kata Suwandi. 

Meski demikian, ia mengakui, terdapat tugas besar yang harus dilakukan ke depan. Seiring peningkatan produsi jagung, Kementan sebagai pihak yang mengatur hulu harus memberikan kepastian pasar bagi petani. 

Hal itu, akan didorong melalui kemitraan antara kelompok petani beserta industri pakan ternak maupun para pengusaha ternak ayam. "Mesti ada kemitraan supaya petani punya kepastian pasar dan harga. Petani dan peternak sama-sama mendapat kepastian. Dari hulu hingga hilirisasi," kata dia. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA