Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Maksimalkan Sawit, Posisi Tawar Indonesia Bisa Meningkat

Selasa 20 Aug 2019 16:49 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Friska Yolanda

Petugas menunjukkan sampel bahan bakar B30 saat peluncuran uji jalan Penggunaan Bahan Bakar B30 untuk kendaraan bermesin diesel di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (13/6). Uji jalan kendaraan berbahan bakar campuran biodiesel 30 persen pada bahan bakar solar atau B30 dengan menempuh jarak 40 ribu dan 50 ribu kilometer tersebut bertujuan untuk mempromosikan kepada masyarakat bahwa penggunaan bahan bakar itu tidak akan meyebabkan performa dan akselerasi kendaraan turun.

Petugas menunjukkan sampel bahan bakar B30 saat peluncuran uji jalan Penggunaan Bahan Bakar B30 untuk kendaraan bermesin diesel di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (13/6). Uji jalan kendaraan berbahan bakar campuran biodiesel 30 persen pada bahan bakar solar atau B30 dengan menempuh jarak 40 ribu dan 50 ribu kilometer tersebut bertujuan untuk mempromosikan kepada masyarakat bahwa penggunaan bahan bakar itu tidak akan meyebabkan performa dan akselerasi kendaraan turun.

Foto: Prayogi/Republika.
Eropa kemungkinan tidak akan lagi menjadi pasar yang menarik bagi sawit Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Managing Director Sinar Mas Agribusiness and Food, Agus Purnomo, menyambut positif perkembangan program biodiesel pemerintah, mulai dari B20, B30, B50, hingga B100. Agus menyakini, Indonesia bisa lebih kuat posisi tawar apabila benar-benar maksimal memanfaatkan minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan.

"Pasar sawit terbesar saat ini India, Indonesia, Cina kadang-kadang beli, kadang-kadang enggak dan Eropa," ujar Agus saat pemaparan capaian keberlanjutan industri kelapa sawit Sinar Mas Agribusiness and Food di Co-Hive, Jakarta, Selasa (20/8).

Baca Juga

Untuk Eropa, kata Agus, berencana tidak mengurangi pemakaian minyak sawit sama sekali pada 2030. Agus menilai, Eropa kemungkinan tidak akan lagi menjadi pasar yang menarik bagi sawit Indonesia.

Agus menyebutkan, dari sekira 48 juta ton produksi sawit Indonesia, pasar Eropa hanya menyerap sekira 4 juta ton atau tidak sampai 10 persen. "Kalau ada pembeli (Eropa) kita layani, tapi kalau pembeli aneh-aneh tidak usah, pasar Eropa penting tapi tidak penting-penting amat. Ada 44 juta ton yang dijual ke tempat lain (selain Eropa)," ucap Agus. 

Dengan pengembangan biodiesel, Agus optimistis Indonesia akan menjadi produsen dan juga pasar terbesar untuk minyak sawit di dunia. Dengan begitu, kata Agus, Indonesia bisa mempunyai daya tawar yang kuat dalam memengaruhi harga sawit.

Agus menambahkan, Sinar Mas sendiri memiliki dua kilang untuk pengolahan biodiesel di Marunda, Jakarta Utara, dan Kalimantan Selatan. Masing-masing kilang memiliki kapasitas 300 ton.

"Kita pelaku kecil kalau untuk ini dibandingkan yang lain. Kadang-kadang (biodiesel Sinar Mas) terjual banyak, kadang sedikit, tergantung Pertamina," lanjut Agus. 

Meski begitu, kata Agus, hasil produksi biodisel Sinar Mas juga ikut berkontribusi untuk pengembangan program biodiesel pemerintah. Agus menyampaikan hasil biodiesel Sinar Mas diperuntukan untuk dalam negeri dan tidak diekspor. Perusahaan hanya mengekspor minyak kelapa sawit mentah ke luar negeri, yang kadang diolah oleh pembeli untuk biodiesel. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA