Friday, 21 Muharram 1441 / 20 September 2019

Friday, 21 Muharram 1441 / 20 September 2019

Ketidakpastian Global Tetap Jadi Dasar Kebijakan Tahun Depan

Selasa 20 Aug 2019 14:52 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolanda

Menteri Keuangan, Sri Mulyani

Menteri Keuangan, Sri Mulyani

Foto: Republika TV/Havid Al Vizki
Pemerintah masih sulit memprediksi kondisi ekonomi global pada tahun depan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan Sri Mulyani menuturkan, ketidakpastian global masih menjadi poin yang diperhitungkan dan diwaspadai dalam membuat kebijakan ekonomi pada 2020. Khususnya trade tention atau tekanan terhadap kondisi perdagangan internasional yang semakin meningkat di sejumlah negara.

Sri mengakui, dalam hal ini, pemerintah masih sulit memprediksi kondisi ekonomi global pada tahun depan. Di satu sisi, kenaikan tarif antara Cina dengan Amerika Serikat terus dilakukan dan dialog yang terus tertunda.

Baca Juga

"Tapi, masih ada berbagai indikator dan persyaratan yang belum disetujui kedua pihak," ujarnya ketika ditemui di Gedung DPR/ MPR, Jakarta, Selasa (20/8). 

Dengan demikian, Sri menuturkan, pengaruhnya akan terlihat dari kegiatan manufaktur. Ini terlihat dari Penanaman Modal Asing (PMA) Cina yang mengalami pelemahan, pun dengan pelemahan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut. 

Sri mengatakan, kondisi tersebut juga akan memberikan pengaruh terhadap respon kebijakan yang siap dilakukan pemerintah Cina dan AS. "Apakah mereka mampu membalikkan situasi tensi ini sehingga menimbulkan kepastian dan berbalik menjadi optimisme, atau seperti apa," tuturnya.

Faktor ekonomi global diketahui memiliki faktor signifikan terhadap ekonomi Indonesia sejak 2018 yang berlanjut pada tahun lalu. Kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS The Fed turut menimbulkan aliran modal asing keluar dari negara berkembang dan menciptakan ketidakpastian.

Pada 2020, Sri menjelaskan, faktor-faktor tersebut masih menjadi dasar pertimbangan pembuatan kebijakan sebagai respon dari kondisi eksternal. Tapi, kebijakan yang dibuat tentu bersifat dinamis mengingat ada sejumlah perubahan.

"Federal reserve yang semula menaikkan suku bunga, sekarang turunkan suku bunga. Kita belum tahu apa yang akan mereka lakukan lagi nantinya," ucapnya. 

Tidak hanya perang dagang AS dengan Cina, Sri menyebutkan, tensi politik di sejumlah negara turut memberikan pengaruh. Misalnya yang terjadi di Hongkong ataupun Argentina. Kondisi tersebut tentu memberikan tekanan lebih terhadap ketidakpastian yang harus terus diwaspadai. 

Sri menekankan, mengelola ketidapastian akan terus dilakukan pemerintah. Khususnya dengan menggunakan APBN sebagai instrumen menjaga ekonomi nasional dan momentum pertumbuhan ekonomi. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA