Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Anak Kampung dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Selasa 20 Aug 2019 13:11 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Professor Ahmad Syafii Maarif

Professor Ahmad Syafii Maarif

Foto: Republika/Daan
Sebagian anak bangsa ini telah mengkhianati cita-cita luhur kemerdekaan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Sudah genap 74 tahun usia kemerdekaan Indonesia, sebuah peristiwa sejarah mahapenting dan mahadahsyat bagi sebuah bangsa yang pernah ditindas di bawah sistem kolonialisme yang serakah dan zalim. Didahului oleh PD (Perang Dunia) II, 1939-1945, bangsa-bangsa terjajajah di Asia dan Afrika, mulai satu per satu melepaskan dirinya dari cengkeraman penjajahan asing dalam rentang waktu yang bervariasi. Untuk bangsa-bangsa di Asia Tenggara, kecuali Thailand, telah mengalami penjajahan ganda: Eropa dan Jepang, sekalipun yang kedua ini hanya berlangsung sekitar tiga setengah tahun.

Indonesia yang sebelumnya oleh penjajah disebut Hindia Timur Belanda merebut kemerdekaannya dari pihak Belanda dan Jepang melalui cara revolusi yang heroik, sebagaimana yang juga dilakukan Vietnam dan Aljazair. Banyak korban anak bangsa dalam upaya mengusir penjajahan yang ingin mengekalkan sistem kolonialnya untuk tempo yang tanpa batas. Di seluruh nusantara bertebaranlah makam-makam pahlawan yang sebagian tidak dikenal namanya, tetapi mereka adalah pejuang sejati.

Penyair Chairil Anwar (1922- 1949) dalam puisi sadurannya "Kerawang-Bekasi" dengan sangat indah tetapi perih dan pilu melukiskan nasib para pejuang kemerdekaan itu berikut ini: Kami yang kini terbaring antara Kerawang-Bekasi tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi. Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami, terbayang kami maju dan berdegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu. Kenang-kenanglah kami… Kami sekarang mayat Berilah kami arti Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian (Lih. H.B. Jassin, Chairil Anwar, Pelopor Angkatan 45. Jakarta: Gunung Agung 1959, hlm. 66, ejaan disesuaikan).

Sekalipun puisi ini adalah sadur an dari karya penyair Archibald Mac Leish "The Young Dead Soldiers", nuansa keindonesiaan sajak "Kerawang-Bekasi" ini terasa kuat sekali karena Chairil Anwar memang seorang patriot sejati yang wafat dalam usia 27 tahun disebabkan bermacam penyakit yang telah menggerogoti tubuhnya yang kurus itu. Bait-bait di atas dengan tajam menghadirkan mayat-mayat pejuang kemerdekaan yang "tidak bisa teriak 'Merdeka' dan angkat senjata lagi." Bagi saya, nilai puisi ini sungguh menyayat hati dan mestinya mengabadikan kepekaan nurani kita untuk tidak berkhianat kepada proklamasi kemerdekaan.

Sebagai seorang anak kampung yang tersuruk di lembah Bukit Barisan, kemerdekaan bagi saya punya makna segala-galanya. Tidak terbayangkan, sekiranya Indonesia masih tetap berada di bawah sistem penjajahan, nasib anak kampung tidak akan mengalami perubahan apa pun: bodoh, miskin, dan terbela kang.

Jenjang pendidikan paling banter hanyalah sampai setingkat SR (Sekolah Rakyat). Maka berkat kemerdekaan, anak-anak kampung yang gigih bisa menjadi siapa saja dan punya peluang untuk melanjutkan pendidikan sampai ke ujung dunia manapun. Allah Maha Pengasih terhadap bangsa ini. Melalui pengorbanan para pejuangnya, Indonesia mendapatkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Inilah kalimat sakti dalam Pembukaan UUD 1945 tentang makna kemerdekaan dan kebebasan sejati bagi sebuah bangsa: "Atas ber kat rahmat Allah yang Maha kuas a dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya." Aduh, ya Allah, begini besar rahamat yang telah Engkau berikan kepada bangsa Indonesia, sebuah bangsa kepulauan yang amat permai.

Namun, hati ini masih sering menjerit dan menangis, ya Allah, karena sebagian anak bangsa ini telah mengkhianati cita-cita luhur kemerdekaan itu dengan kelakuan yang tidak beradab: korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, keadilan sosial yang diabaikan dan dilecehkan! Ujungnya, masih puluhan ribu jumlah kampung dan desa yang belum terjamah sepenuhnya oleh limpahan berkat rahmat kemerdekaan tanah air itu.

Akhirnya, dalam menyambut ulang tahun kemerdekaan ke-74, dirgahayu Indonesia jaya! Semoga keadilan, kesejahteraan, dan kemak muran akan menjadi milik semua anak bangsa, tanpa kecuali, amin!

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA