Sunday, 16 Muharram 1441 / 15 September 2019

Sunday, 16 Muharram 1441 / 15 September 2019

Soal Para Sahabat dan Novel 'Karena Emas di Pulau Papua'

Selasa 20 Aug 2019 05:01 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Warga Papua

Warga Papua

Foto: ap
Papua begitu banyak menyisakan kenangan persahabatan yang indah.

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Novel 'Karena Emas Di Pulau Papua' menemani masa kecil indah saya. Buku ini karya penulis Belanda yang diterbitkan Penerbit Djambatan Jakarta 1947. Beberapa tahun lalu, novel ini saya temukan lagi di sebuah toko buku di Kuala Lumpur. Dan ini punya seseorang yang baik hati menyerahkannya. Orangnya cantik lagi ha ha ha.

Buku ini bererita tentang kisah orang Belanda yang bekerja di Kalimantan dan anaknya yang sekolah di Bandung yang berpetualangan di Papua. Tujuan utama adalah mencari emas dan menjadi bahan tambang lainnya. Mereka membawa orang Dayak  yang kuat untuk menjaganya selama mengembara melawati lembah, hutan, rawa, dan gunung di negeri Papua itu. Setingnya adalah masa sebelum kemerdekaan Indonesia.

Kisah buku ini berkelok-kelok indah menghayutkan. Ada cerita soal dukun Papua, suasana pedalaman, menangkap burung Balam tanpa suara, Mumi yang diasapkan, Pegunungan bersalju, suasana perang suku, panah beracun, hingga ditemukan berbagai batuan tambang.

photo

Keterangan Foto: Novel Karena Emas Di Pulau Papua

Tentu saja karena setingnya soal petualangan orang Belanda, kesan 'supremasi kulit putih' terlihat kentara. Dan ini menjadi bumbu karena ekspedisi yang dikisahkan tersebut juga bercerita mengenai pembebasan anak perempuan berkulit putih yang bernama Anie yang hidup bersama penduduk asli setelah rumah orang tuanya di jarah. Heroik sekali memang ceritanya, ala kisah petualangan Karl May tentang perjumpaan dan konflik Cowboy (peternak sapi) dengan para penduduk benua Amerika yang berkulit kemerahan.

Namun, imbas dari membaca kembali buku ini saya jadi teringat sahabat saya yang kini tinggal tanah yang tengah dilanda rusuh akibat soal ras itu. Di sana ada sahabat, Frans Maniagasi (Si penggemar nasi pecel pinggir selokan Mataram kala kuliah di Yogyakarta). Dan juga ipar wartawan top 'Kaka' Wolaz Krenak, Dulu sih tinggal di kampung Cigombong, dekat Jayapura. Kaka ini teramat baik hati dan Jenaka. Isteri saya kagum sekali padanya.''Kaka Wolaz yang sangat pintar, periang, dan menyenangkan,'' kata isteriku ketika kami bertemu di Terminal Blok M Jakarta.

Dan ini terbukti ketika Kaka Wolaz kemudian terbukti punya 'hubungan persahabatan spesial' dengan Presiden Megawati. Di Istana Negara dia selalu memanggil Presiden Megawati dengan sebutan 'Kaka Presiden'. Dan ibu Megawati selalu berpaling dan menjawab setiap ada lengkingan suara Wolaz memanggilnya. Ibu Megawati pun hampir selalu mengajak bicara dengan Kaka Wolaz ketika bertemu meski hanya sejenak. Itu yang membuat iri wartawan lain, karena khusus hanya Wolaz yang diperhatikan beliau dengan begitu rupa diantara sekian banyak wartawan yang bertugas di Istana Negara.

''Ah saya nggak ada hebatnya. Saya cuma beda dengan kalian. Ini mungkin yang menarik ibu Megawati. Saya kriting dan hitam to,'' kata Wolaz setiap kali ditanya mengapa ibu Megawati akrab dengan dirinya.''Ingat kalau orang berambut lurus dan berkulit tak sepekat saya itu jadi wartawan itu banyak sekali. Tapi kalau kayak saya  kan jarang sekali,'' ujar Wolaz sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Dan kehebetan Wolaz tak hanya sebatas itu. Pada suatu kunjungan Presiden Nelson Mandela di Istana Negara, Wolaz dengan gagah berani mengangkat tangan di kala rekan wartawan lain ragu bertanya. Tak cukup angkat tangan dan bertanya, dengan bahasa yang teratur dia mengenalkan asal usulnya dari Papua. ''Saya seperti bapak berkulit hitam dan keriting,'' katanya dalam bahasa Inggris yang lancar. Nelson pun tertawa, dan Wolaz tentu membalasnya dengan tawa yang bahagia.

Nah, sekarang 'Kaka' Wolaz bermukim di Manokwari. Ketika situasi rusuh kemarin saya menelpon dia. Dia terkesan santai saja.''Kerusuhan sudah ditangani. Orang Jakarta jangan khawatir. Semua tokoh adat dan agama sudah turun. Cuma suasana masih mencekam karena warga belum berani ke luar rumah. Jalanan masih ditutup aparat keamanan,'' kata Wolaz Senin siang kemarin. Mendengar ini saya pun lega. Ketenangan dan keberanian Wolaz inilah yang telah membuatnya sempat terpilih menjadi Ketua Majelis Rakyat Papua. Wolaz membuktikan diri sebaga juru bicara atau diplomat ulung.

Dan khusus Untuk Kaka Frans Manaigasi saya masih menyimpan tanya: Masihkah 'ipar' ingat ketika kita berhari-hari menginap di hotel yang indah di pinggir pantai pantai Biak. Pantai dengan pasir putih dan hutan serta pepohonan nyiur melambai-lambai membuat saya betah tidur semalaman di tepinya. Kita turun dari pesawat dam menginjakan kaki di bandara peninggalan jendral Mc Arthur yang legendaris. Run way bandara itu terlihat kokoh sekali karena terhampar di atas batuan karang.

Saya juga jadi teringat kepada 'maha guru politik' abangda Simon Patrice Morin yang katanya asal Pulau Serui (pulau yang diseberang Biak). Dia bercerita begini:''Bung kalau air laut lagi surut, kami bisa jalan kaki menyeberangi laut ke Serui dari Biak,'' kata Om Simon sembari menunjuk lokasi selat yang terlihat keputihan dari kejauhan.

Terakhir kepada 'Ipar' Jimy Idjie, politisi PDIP dan mantan Ketua DPRP Papua Barat, Mudah-mudahan sehat selalu. Kita nanti sama-sama ke Manokwari, Sorong, hingga Raja Ampat lagi ya? Kita juga nanti pergi lagi ke tempat orang yang bisa panggil ikan di Manokwari, di depan pantai pulau legendaris Mansinam. Kita buat pameran foto soal kembalinya Iriam Jaya ke pangkuan RI seperti di Sorong dahulu yuk?

'Kaka' Jimmy masih ingat kan ketika harus menyebrang ke Pulau mungil Mansinam dari sebuah dermaga pelabuhan rakyat di Manokwari? Saya yang orang Jawa dan tak pandai berenang ketakutan setengah mati pada air laut. Apa pasal? Sebab, saya naik perahu 'kora-kora'. Permukaan airnya sangat dekat ke muka air laut padahal saya lihat air begitu biru pertanda perairan di antara dua pulau itu sangat dalam. Bayangan akan tengelam seperti di depan mata.

"Kaka Jimmy juga masih ingat kan, saya selalu kecapaian ketika mengitari pulau tempat agama Kristen sampai di tanah Papua untuk kali pertama dengan diantar para pelaut Muslim dari Kesultanan Tidore."

Dan ternyata segala kisah dan impian tentang Papua yang ada dalam novel kuno itu semuanya saya telah lihat. Ya itulah Papua pulau emas yang selalu jadi rebutan.

Harap dan doa saya: Semoga semua anak-anak Papua yang hidup di atas tanah emas itu dapat hidup sejahtera!" Salam dari jauh.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA