Sunday, 16 Muharram 1441 / 15 September 2019

Sunday, 16 Muharram 1441 / 15 September 2019

Prof Rokhmin Bekali Wisudawan Universitas Negeri Surabaya

Senin 19 Aug 2019 14:57 WIB

Rep: Irwan Kelana/ Red: Agung Sasongko

 Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof Nurhasan MKes  (kanan) menyalami Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB, Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri, seusai Rokhmin menyampaikan pidato ilmiah pada wisuda Unesa yag ke-95 di Surabaya, Ahad (18/8).

Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof Nurhasan MKes (kanan) menyalami Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB, Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri, seusai Rokhmin menyampaikan pidato ilmiah pada wisuda Unesa yag ke-95 di Surabaya, Ahad (18/8).

Foto: Dok Unesa
Sarjana sekarang harus mampu dan cepat beradaptasi dengan kemajuan teknologi.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar  wisuda yang ke-95 di gedung baru Graha Unesa,Kampus Lidah Wetan, Surabaya, Jawa Timur, Ahad (18/8). Agenda utama acara tersebut adalah pidato ilmiah pakar kelautan dan perikanan IPB, Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS; sambutan Rektor Unesa,; prof Nurhasan MKes; dan pelantikan 1.509 wisudawa-wisudawari yang  terdiri dari  lulusan  program diploma, sarjana strata 1, strata 2 dan doktoral.

Baca Juga

Dalam pidato ilmiahnya, Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS mengemukakan, sarjana sekarang harus mampu dan cepat beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Selain itu, dia memaparkan bahwa lulusan perguruan tinggi jangan hanya puas dengan perolehan akademik. “Namun juga harus berperan aktif memajukan masyarakat dan bangsa dengan bekal ilmu yang didapatkan selama kuliah,” kata menteri kelauatan dam perikanan (2001-2004).

Rokhmin menegaskan, lulusan Perguruan Tinggi yang sukses adalah mereka yang tidak egois. Mereka bekerja cerdas, keras, dan ikhlas untuk menyumbangkan kemampuan terbaiknya bagi terwujdunya Indonesia yang maju, adil-makmur, dan berdaulat. ”Mereka pun memiliki komitmen yang kuat untuk senantiasa berbuat kebajikan (amal saleh) bagi kemaslahatan sesama insan dan dunia yang lebih baik , for a better, prosperous, peaceful, and sustainable world,” ujar Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI).

Rokhmin mengatakan, agar para wisudawan berhasil menerapkan hard skills dan soft skills dalam kehidupannya, maka mereka perlu memahami tiga hal. Ketiiga hal tersebut adalah mesti memahami dinamika pembangunan nasional, perkembangan science and technology (IPTEK) yang luar biasa cepat, dan dinamika perkembangan zaman pada tataran global (global dinamics).

”Dengan memahami ketiga hal tersebut, saudara-saudara kemudian diharapkan mampu mengidentifikasi dan memetakan jenis-jenis pekerjaan, hard skills, dan soft skills yang dibutuhkan di Indonesia dan di dunia, baik untuk saat ini maupun di masa mendatang,” ujar Rokhmin yang juga wakil ketua Dewan Pakar ICMI Pusat.

Di penghujung pidato  ilmiahnya, Rokhmin membeberkan lima kunci untuk hiudp sukses dan bahagia, tidak hanya di dunia, tapi juga di surga. Pertama, beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME menurut agamanya  masing-masing.  Kedua,  memiliki kompetensi IPTEK (hard skills) sesuai dengan bidang ilmu atau program studi yang dipelajari.

Ketiga, kata Rokhmin, harus sehat, cerdas, cakap, terampil, kreatif, inovatif, berpikir kritis, mampu menganalisis masalah secara tepat dan benar, mampu memecahkan masalah, fleksibel dan adaptif, mampu bekerjasama (teamwork), dan berjiwa wirausaha (entrepreneurship).

Keempat, menguasai IPTEK di era Industri 4.0, khususnya information technology (penggunaan komputer dan teknologi digital) dan bahasa asing (Inggris, Arab, dan Mandarin). "Kelima, memiliki etos kerja yang unggul (seperti rajin, ulet, tampil maksimal, dan disiplin) dan berakhlak mulia termasuk jujur, amanah, toleransi, sabar, penyayang, dan ikhlas,” ujar Member of International Scientific Advisory Board of Center for Coastal and Ocean Development, University of Bremen, Germany.

Terakhir, kata Rokhmin, perlu dicamkan bahwa menjadi ahli madya, sarjana, magister, doktor, atau profesor itu bukan berarti seseorang berhenti belajar. “Tidak, justru kita harus terus belajar, menggali ilmu dan mengamalkannya untuk kemaslahatan bersama. Sesuai dengan hadis Rasulullah SAW, "Tuntutlah ilmu itu sejak dari buaian hingga ke liang lahat’. Itulah esensi dari “Long-life Education,” ujar Prof Rokhmin Dahuri.

Caption foto: Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof Nurhasan MKes  (kanan) menyalami Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB, Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri, seusai Rokhmin menyampaikan pidato ilmiah pada wisuda Unesa yag ke-95 di Surabaya, Ahad (18/8).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA