Wednesday, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Wednesday, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Risiko Resesi Meningkat, Ekspor Jepang Tertekan

Senin 19 Aug 2019 09:56 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya

Bendera Jepang

Bendera Jepang

Foto: techgenie.com
Pertumbuhan ekspor Jepang turun 1,6 persen pada Juli dari tahun sebelumnya.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO – Konflik dagang antara Cina dengan Amerika Serikat dan perlambatan ekonomi global memicu kekhawatiran akan munculnya resesi global. Salah satu pertanda baru ditunjukkan dengan penurunan ekspor Jepang selama delapan bulan berturut-turut pada Juli.

Baca Juga

Kepercayaan industri manufaktur juga berubah menjadi negatif untuk pertama kalinya selama enam tahun akibat penjualan yang terkait dengan Cina merosot lagi. Data suram ini menimbulkan kecemasan bagi pembuat kebijakan Jepang bahwa pelemahan permintaan eksternal berkepanjangan akan mendorong penurunan tajam ekonomi di dalam negeri.

Data Departemen Keuangan yang dirilis Senin (19/8) menunjukkan, pertumbuhan ekspor turun 1,6 persen pada Juli dari tahun sebelumnya. Nilai tersebut membaik dibandingkan proyeksi ekonom yang memperkirakan penurunan dapat mencapai 2,2 persen.

Dilansir di Reuters, Senin (19/8), penurunan tersebut dikarenakan pengiriman suku cadang mobil dan perlatan produksi semikondutor ke Cina yang masing-masing menurun 35 persen dan 31,5 persen. Selain itu, produk elektronik juga menghadapi kntraksi hingga 19 persen. Secara umum, eksor ke Cina, mitra dagang terbesar Jepang, menyusut 9,03 persen pada Juli secara year on year (yoy).

Sementara itu, pengiriman ke Asia yang menyumbang lebih dari setengah ekspor total Jepang, turun 8,3 persen pada Juli (yoy).

Ekonomi yang bergantung pada ekspor, seperti Jepang, menjadi ‘korban’ terbesar perang dagang Cina dengan AS. Dampaknya dirasakan mulai dari peningkatan rantai pasokan, merusak perdagangan global, investasi hingga pendapatan perusahaan.

Secara terpisah, survei Reuters Tankan menunjukkan, kepercayaan bisnis pabrikan Jepang berubah negatif untuk pertama kalinya sejak April 2013 pada Agustus ini. Kondisi tersebut memggarisbawahi prospek ekonomi Jepang yang semakin gelap. Salah satu penyebabnya, keterlibatan Jepang dalam pertikaian dagang yang semakin intensif dengan Korea Selatan.

Analis Capital Economics memprediksi, pertumbuhan impor akan terus melebihi ekspor. Sebab, konsumen terlihat akan menambah permintaan seiring dengan menjelang kenaikan pajak penjualan yang direncanakan berlaku pada Oktober. "Hasilnya, neraca dagang (net) dapat tetap menjadi hambatan terhadap pertumbuhan di kuartal ketiga," tulis para analis.

Di sisi lain, Jepang juga harus berhati-hati dengan AS. Sebab, ekspor Jepang ke Negeri Paman Sam tersebut tumbuh 8,4 persen pada Juli akibat lonjakan peralatan produksi semikonduktor, konstruksi hingga mesin pertambangan. Tren tersebut menandai pertumbuhan ekspor selama 10 bulan berturut-turut yang dapat meningkatkan kemarahan Presiden Donald Trump.

Sebelumnya, Trump sempat mengkritik Jepang dan mitra dagang lainnya karena dianggap melakukan praktik dagang yang tidak adil. Kedua negara akan mengadakan pembicaraan perdagangan tingkat menteri di Washington pekan ini. Pembicaraan terfokus pada kesepakatan perdagangan awal, termasuk ekspor daging sapi AS dan ekspor mobil Jepang. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA