Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Ikappi Sebut Harga Cabai Meroket Setiap Musim Kemarau

Senin 19 Aug 2019 06:35 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya

Pedagang cabai melayani pembeli di Pasar Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Jumat (9/8/2019).

Pedagang cabai melayani pembeli di Pasar Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Jumat (9/8/2019).

Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya
Harga riil cabai rawit merah sudah mencapai Rp 100 ribu per kilogram.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) menyatakan, terjadi kenaikan signifikan terhadap harga cabai dalam sebulan terakhir. Ikappi menilai, kenaikan tersebut diduga kuat dampak dari musim kemarau yang mengakibatkan keterbatasan pasokan air di sentra-sentra cabai.

Ketua Umum Ikappi, Abdullah Mansuri mengatakan, harga riil cabai rawit merah sudah mencapai Rp 100 ribu per kilogram. Sementara cabai jenis lain seperti cabai keriting merah dan cabai merah sekitar Rp 80 ribu.

"Sejak lima tahun terakhir harga cabai memang selalu naik saat musim kemarau. Ini contoh langsung dampak kemarau," kata Mansuri kepada Republika.co.id, Ahad (18/8).

Mansuri mengatakan, harga cabai pada saat Hari Raya Idul Fitri lalu cenderung terkendali karena bertepatan dengan musim panen. Namun, menjelang Hari Raya Idul Adha, harga cabai rawit merah secara perlahan terus melonjak. Dari segi permintaan, kata dia cenderung normal.

Namun, dari segi jumlah pasokan yang didistribusikan ke pasar mengalami penyusutan dari biasanya meskipun frekuensi pengiriman cabai dari setiap sentra tetap normal. "Komoditas lainnya bawang merah, sayur mayur juga harganya relatif tinggi," kata dia.

Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto, menuturkan, saat ini tidak terjadi gangguan produksi cabai dari setiap sentra di wilayah Indonesia. Kenaikan yang terjadi beberapa waktu terakhir imbas jatuhnya harga cabai pada enam bulan yang lalu hingga menyentuh Rp 5 ribu per kilogram (kg).

Hal itu membuat petani tidak melakukan kegiatan panen karena pendapatan dari penjualan cabai tidak mampu menutupi biaya panen. Dimana, pengeluaran terbesar digunakan untuk membayar tenaga buruh tani.

Baca Juga

Sementara kegiatan panen dihentikan, petani mengganti tanaman dengan komoditas lain dan membuat produksi cabai terus berkurang.

Prihasto menyebut, rata-rata komoditas alternatif yang ditanam petani cabai yakni jagung, kacang tanah, dan sayuran. Saat ini, ia memastikan penanaman cabai telah kembali dilakukan dan diharapkan pada September-Oktober, produksi cabai kembali normal sehingga harga kembali stabil.

"Ini dampak dari kondisi enam bulan yang lalu. Kemarau tidak terlalu masalah karena cabai tidak membutuhkan banyak air. Sekarang yang penting air masih tersedia dan tidak perlu banyak," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA