Saturday, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Saturday, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Kementan Yakin Musim Kemarau tak Ganggu Produksi Cabai

Ahad 18 Aug 2019 20:17 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Bayu Hermawan

Cabai sebagai komoditas hortikultura

Cabai sebagai komoditas hortikultura

Foto: Humas Kementan
Kementan mengatakan tanaman cabai tak butuh banyak air seperti padi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan produksi cabai pada musim kemarau tahun ini tidak akan terganggu. Kenaikan harga cabai yang tengah terjadi merupakan imbas dari berkurangnya produksi sejak kejatuhan harga sekitar enam bulan lalu yang membuat petani beralih ke tanaman lain.

Baca Juga

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto mengatakan tanaman cabai tidak membutuhkan air banyak seperti padi. Menurutnya, para petani bahkan melakukan penyiraman maksimal selama tiga hari sekali untuk menjaga produktivitas dan kualitas cabai.

"Artinya yang penting ada air walaupun tidak banyak. Ini harus diketahui," kata Prihasto kepada Republika.co.id, Ahad (18/8).

Prihasto menuturkan, penanaman cabai telah dilakukan dan diharapkan pada bulan September-Oktober mendatang produksi kembali stabil sehingga harga kembali normal. Kementan, kata Prihasto, sudah menyusun pola tanam berbasis kebutuhan riil di masing-masing daerah.

Daerah yang minus produksi terhadap kebutuhan akan dipenuhi dari hasil produksi yang surplus di sekitarnya. Cara tersebut mulai diterapkan sehingga distribusi cabai lebih teratur dan potensi kenaikan harga bisa diminimalisasi. "Ini sudah dipetakan dan semua datanya ada. Ini bisa digunakan sebagai patokan untuk memenuhi kebutuhan pasar," ujarnya.

Menurut Prihasto, harga ideal cabai di tingkat petani sebesar Rp 25-30 ribu tergantung jenis. Harga tersebut akan membuat petani tidak melakukan pengalihan tanaman ke komoditas lain karena sudah cukup menguntungkan. Karena itu, ia memastikan kebutuhan cabai akan terpenuhi seiring musim tanam yang telah berlangsung.

Sebagaimana diketahui, beberapa bulan lalu harga cabai sempat jatuh hingga menyentuh Rp 5 ribu per kilogram (kg). Hal itu membuat petani tidak melakukan kegiatan panen karena pendapatan dari penjualan cabai tidak mampu menutupi biaya panen.

Dimana, pengeluaran terbesar digunakan untuk membayar tenaga buruh tani. Sementara kegiatan panen dihentikan, petani mengganti tanaman dengan komoditas lain dan membuat produksi cabai terus berkurang. Prihasto menyebut, rata-rata komoditas alternatif yang ditanam petani cabai yakni jagung, kacang tanah, dan sayuran.

Dengan alasan tersebut, Prihasti menuturkan bahwa kenaikan cabai yang saat ini terjadi bukan disebabkan oleh musim kemarau yang membuat cadangan air di sentra pertanaman berkurang.

Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategir (PIHPS), rata-rata nasional harga cabai rawit merah hingga Jumat (16/8) sebesar Rp 79 ribu per kilogram (kg). Sementara, cabai rawit merah dihargai Rp 62.500 per kg, cabai merah besar Rp 67.200 per kg serta cabai merah keriting Rp 69.800 per kg.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA