Saturday, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Saturday, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Ini Cara Tingkatkan Daya Saing Indonesia

Ahad 18 Aug 2019 19:40 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Elba Damhuri

Ilustrasi wisudawan

Ilustrasi wisudawan

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Memaksimalkan SDM yang menimba ilmu di luar negeri harus diperkuat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Daya saing Indonesia di mancanegara khususnya di Asia Tenggara masih perlu ditingkatkan. Ada beberapa hal yang harus diperbaiki.

Rektor Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia Murniati Mukhlisin menyebutkan, di antaranya memaksimalkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang menimba ilmu di luar negeri. "Terutama yang mendapatkan beasiswa pemerintah," kata Murniati Jumat, (16/8).

Menurut dia, banyak penerima beasiswa baik dari pemerintah daerah maupun instansi pemerintah dan swasta tidak memberikan pengarahan atau ikatan bagi lulusan luar negeri yang sudah dibiayai kuliahnya agar mengabdi di Tanah Air. Hal itu membuat mereka akhirnya berkiprah di luar negeri dan berkontribusi di negara-negara tersebut.

Di sisi lain, kata Murniati, banyak kampus di dalam negeri yang belum bisa bersaing dalam memutakhirkan kurikulum sehingga lulusannya tidak siap pakai. Murniati menambahkan sinergi antarlembaga pemerintah dan swasta yang mempromosikan ekonomi dan keuangan syariah pun masih tumpang tindih dan tidak berjalan satu arah.

Padahal pengembangan keuangan syariah dapat turut mendongkrak daya saing negara. "Misalnya ada instansi pemerintah yang mengadakan acara sosialisasi produk dan jasa keuangan syariah di satu daerah padahal sebelumnya sudah ada program yang serupa. Ada proyek pembuatan buku teks untuk kampus tapi tidak melibatkan pemegang kepentingan (stakeholders) yang ada sehingga buku teks tersebut tidak bisa menjadi buku teks wajib," jelas Murniati.

Dia melanjutkan, pendidikan ekonomi dan keuangan syariah sekarang masih dibuat sangat formal dan kebanyakan hanya dikenalkan di perguruan tinggi. Padahal seharusnya dimulai dari pendidikan di rumah yang melibatkan semua pihak terkait dengan pendekatan beragam berdasarkan usia dan demografi.

"Persepsi masyarakat tentang ekonomi dan keuangan syariah adalah bagaimana kenal dengan akad-akad produk dan jasa perbankan syariah padahal harusnya jauh lebih dari itu," ujar Murniati.

Ia menjelaskan, akad-akad syariah seharusnya diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari mulai dari rumah, misalnya dari akad gaji yang diterima, pemberian nafkah, belanja di pasar, hutang dengan tetangga dan saudara, menghitung zakat, serta mengurus perhitungan harta waris Islami.

Perlu diketahui, berdasarkan pemeringkatan IMD World Competitiveness Ranking 2019, tingkat daya saing Indonesia di dunia naik dari posisi 43 pada tahun lalu ke 32. IMD menilai daya saing negeri ini naik pesat berkat peningkatan efisiensi di sektor pemerintahan, perbaikan infrastruktur, serta kemudahan berusaha.

Meski begitu, dibandingkan negara di Asia Tenggara lainnya, peringkat Indonesia masih kalah dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand. Pasalnya, Singapura menempati posisi pertama, Malaysia di 22, dan Thailand di posisi 25.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA