Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Jaga Kualitas Tanah, Petani Diimbau Gunakan Pupuk Organik

Sabtu 17 Aug 2019 23:15 WIB

Red: EH Ismail

Generasi muda mengarahkan petani menggunakan pupuk organik untuk menjaga unsur hara dalam tanah

Generasi muda mengarahkan petani menggunakan pupuk organik untuk menjaga unsur hara dalam tanah

Foto: Humas Kementan
berbisnis tanpa harus merusak merupakan semangat generasi muda masa kini.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Social entrepreneurship kini semakin marak diminati Melineal. Mereka tengah gandrung atas manfaat pupuk organik yang diolah secara modern karena diyakini dapat kembali merestrukturisasi kekayaan hara tanah akibat pengaruh penggunaan pupuk kimia yang gemar dilakukan oleh generasi terdahulu hingga kini tanpa memikirkan keberlangsungan ekosistem tanah di kemudian hari.

Pupuk organik itupun membuat tertarik Freddy Wijaya (27). Menurutnya berbisnis tanpa harus merusak itu melineal banget. Karena ada keberlanjutan perbaikan kualitas tanah secara sistematis. Berbeda dengan pupuk kimia yang meninggalkan residu, pupuk organik justru dapat mengembalikan kualitas tanah seperti semula.

Berawal di tahun 2015. Freddy bersama teman-temannya alumnus UGM Yogyakarta berusaha mencari solusi bagaimana meningkatkan produktivitas hasil panen petani di Kabupaten Nagekeo Flores Nusa Tenggara Timur.  

Saat itu, benih jagung yang ditanam dipastikan tidak akan bisa dipanen. "Mereka tanam jagung tetapi tidak pernah merasakan bagaimana rasanya panen jagung,” tuturnya.

Penelitian dilakukan secara seksama dengan bahan baku yang ada diperoleh dari lingkungan sekitar. “Hasilnya menggembirakan. Petani sudah bisa merasakan bagaimana rasanya panen jagung. Profil tanaman tampak meraksasa, daun lebar, buah besar-besar, batang kokoh dan daunnya pun masih tampak hijau saat di panen,”aku Freddy

Sementara di Kupang NTT di atas lahan sawiah, hasil panen padi naik hampir 40%. Dari yang awalnya 7 ton per hektar, kini mampu panen 11 ton per hektar. 

"Dari hasil riset lapangan itu lah, kami menamakan pupuk temuan kami dengan nama Dinosaurus. Nama itu dipilih untuk mengajak masyarakat petani kembali ke masa lalu dimana tanaman bisa tumbuh dengan subur dan besar-besar dengan bahan-bahan alami,” jelasnya.

Pupuk berizin dari Kementerian Pertanian tahun 2018 itu mempunyai basis produksi berlokasi di Gunung Putri Bogor, Jawa Barat berkapasitas hingga 100 ribu liter per bulan. “Belum genap setahun, kini pupuk Dinosaurus sudah tersebar di banyak daerah di Indonesia, seperti Bandung, Bogor, Medan hingga Padang dan Gorontalo,” ujar Freddy. 

Pertanian sesungguhnya menarik bagi generasi melineal. Disamping menguntungkan secara bisnis, yang tak kalah pentingnya itu kami rasanya puas saat melihat petani panennya naik tanpa harus merusak lahan yang selama ini menghidupinya,” tutup Freddy menginspirasi.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA