Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Palestina, Kemerdekaan Indonesia, dan Ahmad Soekarno

Sabtu 17 Aug 2019 15:40 WIB

Red: Elba Damhuri

Asma Nadia

Asma Nadia

Foto: Daan Yahya/Republika
Ya, di Timur Tengah, ia lebih dikenal dengan nama Ahmad Soekarno.

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh Asma Nadia

Tak banyak yang mengungkap ini dalam buku sejarah, namun pada satu pertemuan, seorang sejarawan mengisahkan ketika Presiden Soekarno berkunjung ke Timur Tengah, saat berkeliling dengan mobil terbuka, masyarakat setempat mengelukan sang flamboyan sambil berteriak…

“Ahmad, Ahmad, Ahmad…”

Ya, di Timur Tengah, ia lebih dikenal dengan nama Ahmad Soekarno.

Semua bermula saat diplomat Indonesia sedang menggalang dukungan dari negara-negara Timur tengah untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.

Setelah berbulan belum juga mendapatkan pengakuan dari negara lain, Timur Tengah menjadi prioritas mengingat kesamaan nasib dan kedekatan spiritual Islam.

Akan tetapi satu pertanyaan kemudian terlontar saat bertemu seorang delegasi  negara Timur Tengah.

“Apakah bangsa ini bangsa Muslim?”

“Ya, mayoritas Muslim, “Jawab diplomat Indonesia.

“Siapa presidennya?”

“Soekarno.”

Nama  Soekarno membuat delegasi Arab mengernyitkan kening. Berjuang memahami. Bangsa Muslim  tetapi nama-nama yang digunakan tidak terdengar nuansa Islam.

Melihat keraguan yang timbul, spontan diplomat Indonesia mengambil inisiatif.

“Namanya Ahmad Soekarno!” ujarnya cepat-cepat mengoreksi.

Mendengarnya sang diplomat timur tengah tersenyum dan singkat cerita mengakui kemerdekaan Indonesia. Tercatat dalam sejarah 10 negara pertama yang menyatakan dukungan terhadap  kemerdekaan Republik Indonesia, adalah negara-negara Islam di kawasan Afrika dan Timur Tengah. 

Negara-negara tersebut yaitu; Palestina, Mesir, Libanon, Suriah, Irak, Saudi Arabia, Yaman juga menyusul Afganistan, Iran dan Turki. Di luar itu, jangan lupakan Vatikan sebagai negara kelima yang  pertama-tama mengakui kemerdekaan Indonesia.

Sebenarnya jika diurut sejak awal, pembelaan ini bermula dari dukungan seorang Mufti besar Palestina yang mengakui kemerdekaan Indonesia sejak masa penjajahan Jepang. Ya, jauh sebelum negara lain.

Hal tersebut diungkap dalam buku "Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri", yang ditulis oleh M. Zein Hassan Lc pun dalam buku "Ziarah Sejarah; Mereka yang Dilupakan" karya Hamid Nabhan.

Pada tahun 1944 Jenderal Kuniaki Koiso (Perdana Menteri Jepang) berjanji akan memberi kemerdekaan terhadap Indonesia.

Mufti Besar Palestina, Amin Al-Husaini secara terbuka mengumumkan dukungannya atas kemerdekaan Indonesia via Radio Berlin berbahasa Arab. Berita yang disiarkan melalui radio tersebut terus disebarluaskan selama 2 hari berturut-turut.

Bahkan buletin harian “Al-Ahram” yang terkenal juga menyiarkan. Saat itu, sang ulama tengah bersembunyi di Jerman pada permulaan Perang Dunia II,  berjuang melawan imperialis Inggris dan Zionis yang ingin menguasai kota Al-Quds, Palestina.

Tak hanya memberi dukungan, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini kemudian mendesak Negara-negara Timur Tengah lain untuk mengikuti jejaknya. Seruan yang disampaikan Muhammad Amin Al-Husaini ini lalu disambut baik oleh Mesir. Setelah Palestina, Mesir merupakan negara  yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Mesir mengakui kedaulatan Republik Indonesia tepatnya pada 22 Maret 1946.

Peran Palestina terkait ini sungguh luar biasa dan tidak mungkin dilupakan. Inilah alasannya, saat aksi bela Palestina diselenggarakan, ketua PBNU Said Aqil mendukung dan menyatakan, “Kita hutang budi sama palestina.”

Sejak zaman Soekarno hingga masa kini, pemerintah Indonesia secara konsisten terus memberi dukungan bagi kemerdekaan Palestina, bahkan saat harus berhadapan dengan AS yang mempunyai kebijakan berbeda.

Alhamdulillah 74 tahun sudah kita merdeka, salah satunya dengan dukungan Palestina.

Tragisnya justru bangsa Palestina masih berada dibawah cengkraman kekuasaan penjajah. Dengan logika itu maka hutang kita terhadap negeri baitul maqdis belum terbayar. Walau demikian diplomat  tanah air tetap berjuang dari jalur diplomasi, sementara Ulama dan ummat berjuang lewat berbagai gerakan kepedulian. Seniman dan

Budayawan pun berjuang lewat jalur budaya, salah satunya via film Hayya.  Ikthiar  kecil berupa karya  film layar lebar yang diniatkan menggugah kepedulian akan perjuangan rakyat Palestina.

Film yang akan tayang di tanggal cantik 19.9.19 atau 19 September 2019 semoga masih relevan sebagai  persembahan cinta di hari kemerdekaan Indonesia untuk bangsa (khususnya anak-anak) Palestina.

Kemerdekaan adalah Hak Segala Bangsa.

Alhamdulillah puluhan tahun Indonesia hidup bebas,  menggenggam kemerdekaannya. Sesuatu yang sejak lama diperjuangkan dengan darah dan air mata oleh saudara-saudara kita di  Palestina.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA