Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Putaran Pertama Liga 1 Belum Usai, Sembilan Pelatih Dipecat

Sabtu 17 Aug 2019 05:05 WIB

Rep: Hartifiany Praisra/ Red: Endro Yuwanto

Djadjang Nurdjaman

Djadjang Nurdjaman

Foto: REPUBLIKA/Hartifiany Praisra
Klub masih memberikan target yang tidak relevan dengan realita.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Putaran pertama kompetisi Liga 1 2019 akan segera berakhir pada akhir Agustus mendatang. Namun sebelum putaran pertama berakhir, sudah ada sembilan pelatih yang dipecat.

Diawali oleh Persija Jakarta yang melepas Ivan Kolev setelah gagal di ajang Piala AFC. Setelah itu, delapan tim lain, yakni Barito Putera, Persela Lamongan, Persipura Jayapura, Semen Padang, Perseru Badak Lampung FC, PSIS Semarang, Persebaya Surabaya, dan Bhayangkara FC turut melepas pelatihnya.

Bukan kali pertama pelatih kenamaan, Djadjang Nurdjaman (Djanur) istirahat di tengah kompetisi. Apalagi, sebelum dipecat oleh Persebaya, Djanur tidak menerima ultimatum sama sekali.

"Saya mempertanyakan itu, ultimatum yang mana, warning kapan? Saya tidak bohong, nyatanya tidak ada (ultimatum), jadi kaget (dipecat)," kata Djanur ditemui di rumahnya, Antapani, Kota Bandung, awal pekan lalu.

Djanur mengaku miris dengan banyaknya pemecatan dan pengunduran diri pelatih sebelum paruh pertama selesai. Menurutnya, harus ada sistem yang diubah dalam kompetisi.

"Kompetisi harus segera meniru Eropa sana, seperti kontrak pelatih jangan satu musim. Kemudian tidak berarti baru beberapa pertandingan, hasilnya tidak sesuai harapan kemudian dipecat," kata Djanur.

Djanur mencontohkan bagaimana Juergen Klopp membawa trofi Liga Champions untuk Liverpool usai empat musim memegang tim. Menurutnya, satu tahun pertama digunakan pelatih untuk bisa membangun tim. "Kalau kita masih seperti ini ya akan akan terus terjadi, harus dipikirkan. Jangan mau instan, di sini semua mau instan," kata pelatih kelahiran Majalengka ini.

Djanur menyebut para pelatih pemegang lisensi AFC Pro akan bertemu pada September mendatang. Ia menyatakan, berkumpulnya pelatih termasuk untuk membicarakan asosiasi pelatih yang kini mati suri.  "Pengurus PSSI yang terpilih harus bisa mengatasi ini. Asosiasi pelatih juga harus terbentuk agar bisa menyampaikan suara kami," kata dia.

Sementara itu, pengamat sepak bola nasional, Mohamad Kusnaeni mengakui pemecatan pelatih di kompetisi nasional menunjukkan kurangnya profesionalitas klub dalam membangun tim. Menurutnya, klub masih memberikan target yang tidak relevan dengan realita. "Pelatih tidak dapat waktu cukup untuk membentuk tim dan meningkatkan performa, selalu dikejar target jangka pendek," kata pria yang biasa disapa Bung Kus ini.

Komentator sepak bola ini menyebut pengalaman panjang pelatih bisa hancur akibat beberapa pertandingan yang dianggap gagal. Hal tersebut membuat kompetisi menjadi tidak sehat karena orientasi tim hanya kemenangan, bukan membangun tim.

"Klub harus bisa melihat bahwa tim membutuhkan waktu. Kadang keinginan pelatih untuk rekrut pemain saja tidak dikabulkan, keinginan pelatih untuk program tim tidak diwujudkan," kata Bung Kus.

Bung Kus memberi saran pada pelatih agar tegas pada klub. Patokan pemecatan pelatih bukan hanya dari tuntutan suporter atau tren negatif yang sedang dialami oleh tim. "Pelatih ketika menerima tawaran dari klub harus tegas dia minta waktu, setidaknya setengah musim. Kalau tidak bisa dia jangan mau. Jadi pengukuran kinerja di paruh musim," kata Bung Kus.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA