Rabu, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Rabu, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

OPM, Wujud Nyata Radikalisme dan Terorisme

Jumat 16 Agu 2019 17:30 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

[ilustrasi] Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) berpose dengan latar bendera Bintang Kejora.

[ilustrasi] Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) berpose dengan latar bendera Bintang Kejora.

Foto: Dok TPNPB
Radikalisme dan terorisme disematkan pada kelompok Islam yang tak lakukan kekerasan

Akhir-akhir ini kata radikalisme semakin gencar menyebar membuat tegang kondisi masyarakat negri ini. Radikalisme bagaikan momok yang menakutkan dan mengancam Indonesia.

Hingga berbagai komponen masyarakat, dari tingkat sekolah, kampus, hingga pemerintahan menyatakan perang melawan Radikalisme melalui seminar-seminar dan opini-opini yang di gencarkan agar masyarakat tidak terpapar paham radikalisme.Namun jika di telaah lebih dalam kepada siapa istilah radikalisme lebih tepat untuk di tunjukan?

Baca Juga

Seperti yang di kutip dalam laman tribunnews.com anggota Satgas Gakkum Polda Papua Briptu Hedar yang sempat disandera kelompok kriminal bersenjata (KKB), ditemukan meninggal dunia.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Mustofa Kamal mengatakan, jenazah Briptu Hedar ditemukan Senin (12/8/2019) pukul 17.30 WIT.

Fakta di atas menunjukan dengan gamblang potret nyata radikalisme dan terorisme dimana Gerakan Papua Merdeka terus merongrong negeri ini. Gerakan sparatisme yang menggunakan kekerasan dan tak henti-henti nya terus menelan  korban. Inilah ancaman nyata bagi Indonesia.

Konflik OPM yang sejak dulu tak pernah terselesaikan justru semakin tumbuh subur. Namun pada fakta nya kelompok OPM yang sudah jelas-jelas telah melakukan tindakan meneror dan membuat keresahan, bahkan kekerasan dan sparatisme justru tak pernah di sebut sebagai kelompok Radikal. 

Dan yang lebih mirisnya lagi istilah radikalisme dan terorisme justru disematkan pada ormas-ormas Islam yang tak pernah melakukan kekerasan, teror maupun gerakan sparatisme. Inilah keterbalikan logika, dimana istilah radikalisme menjadi suatu istilah relatif yang di gunakan sesuai kepentingan.

Disilah penting nya masyarakat untuk memahami apa itu sebenar nya radikalisme agar masyarakat tidak sembarangan menempatkan istilah tersebut, apalagi menyematkan istilah radikalisme pada simbol-simbol, identitas dan ormas-ormas islam karena ini sangat berbahaya. 

Hal ini dapat memandulkan pola pikir dan logika, sehingga masyarakat menempatkan istilah radikalisme pada sesuatu hal yang justru fakta nya tak dapat di raba dan di lain sisi mengabaikan fakta dan wujud sebenar nya dari radikalisme dan terorisme itu sendiri. 

Pengirim: Dian Ambarwati, Muslimah Wonogiri

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA