Sabtu, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Sabtu, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

JFC, Kreativitas dan Seni Bukanlah Harga Mati

Kamis 15 Agu 2019 09:44 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Peserta dari delegasi Kabupaten Jepara mengikuti Wonderful Artchipelago Carnival Indonesia (WACI) dalam rangkaian Jember Fashion Carnaval di Jember, Jawa Timur, Sabtu (3/8/2019).

Peserta dari delegasi Kabupaten Jepara mengikuti Wonderful Artchipelago Carnival Indonesia (WACI) dalam rangkaian Jember Fashion Carnaval di Jember, Jawa Timur, Sabtu (3/8/2019).

Foto: Antara/Seno
Kreativitas dan seni bisa jadi ajang pamer aurat yang mengatasnamakan ekspresi

Jember Fashion Carnaval atau JFC, menurut masyarakat Jember bukanlah sebuah karnaval biasa. 

Maksudnya? "Ya, JFC kan sudah go internasional gitu lho!" Nah, itu dia pernyataan sebagian masyarakat kita yang masih berpandangan bahwa JFC ini patut mereka banggakan bahkan bupati saja mengatakan bahwa dengan adanya even ini akan mampu menggenjot perekonomian kota Jember. 

Lalu, seperti apakah fakta JFC yang mereka banggakan dan harapkan mampu membawa Jember kota santri ini ke arah yang mereka sebut maju? 

Pamer Aurat Iya, Mendidik Nggak Banget!

Betul sekali, festival busana seperti JFC hanya menjadi ajang pamer aurat. Bisa dilihat, betapa banyak video dan foto-foto dokumentasi yang bisa akses membuktikan bahwa even ini jadi ajang pamer aurat, dan kebebasan berekspresi atas nama seni. Terlebih, setelah artis Cinta Laura dinobatkan menjadi Brand

Ambassadornya tahun ini. Artis yang dikenal "berani", berbusana terbuka, ini tampil di penutupan JFC, 4 Agustus 2019 kemarin semakin mengukuhkan pendapat di atas. 

Wajarlah jika JFC banyak menuai protesan. Tak hanya dari kalangan emak-emak yang memiliki kecintaan dan kepedulian dengan generasi, MUI Jemberpun ikut bersuara. MUI menilai pakaian yang dikenakan Cinta Laura kurang pantas ditampilkan di tengah masyarakat. Apalagi Jember dikenal sebagai kota yang religius.

"Jauh-jauh datang ke Jember kok hanya pamer aurat," kata Ketua MUI Jember Prof. Abdul Halim Subahar, Senin (5/8) dikutip dari wolipop.

Menurut Gus Halim, masih dengan sumber yang sama, Yayasan JFC sebagai penyelenggara dan penggagas desain busana untuk bintang film Oh Baby itu, telah gagal memberikan tontonan yang baik. Terutama berkaitan dengan ciri khas dari  Jember.

Kritikan juga datang dari salah satu Tokoh Pesantren Jember, Pimpinan Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Desa Suren, Kiyai Abdur Rahman Lutfi. "Jember ini terkenal dengan banyak pesantren. Tolong jangan umbar aurat di depan umum. Apalagi, yang menyaksikan anak di bawah umur dan banyak santri, ini kan malu dan kurang mendidik," lontarnya, Senin (5/8).

Kostum Porno, Pikiranmu Aja yang Kotor!

Sayangnya, di tengah protesan dan kritikan akan kostum porno JFC. Masih ada juga masyarakat yang mengatakan bahwa masalah pamer aurat itu bukan salahnya yang pamer, tapi salahnya yang lihat dan pikirannya kotor. Okelah, pikiran kotor itu menurutmu tiba-tiba muncul sendiri tanpa rangsangan gitu? 

Ya nggaklah! Adanya rangsangan berupa tontonan dan informasi terkait fakta-fakta porno, umbar aurat dan kecantikan wanita itulah yang menjadi pemantik pikiran orang jadi kotor. 

Contohnya saja, film remaja "dua garis biru", dari judulnya saja sudah langsung ketangkep itu bukan film yang isinya remaja pesantren yang ikut hafalan Al Qur'an dan berusaha menjadi hafidz Qur'an. Ya kan?

Yang ada dalam pikiran kita, itu pasti film " biru". Maksudnya film yang menggambarkan pergaulan bebas di kalangan remaja. Nah itu dia, kondisi saat ini memang telah menjauhkan cara berpikir Islami dalam memandang hal apa saja yang ada di tengah masyarakat kita. Tak ada lagi halal haram, yang ada hanyalah hujah kebebasan. Tak ada lagi adab dan nilai-nilai akhlak, yang ada hanyalah ekspresi bernilai maksiat

Lalu apa yang dibanggakan dari JFC ini? Ketika yang terjadi malah menampakkan semakin rendahnya harga diri kota Santri. Ketika yang menjadi korban pamer aurat tak hanya para orang tua tapi juga generasi muda.

Jika atas nama seni dan kreatifitas, haruskah warga jember menjadi tumbal dari efek tontonan tak mendidik seperti JFC?

Islam, Memiliki Cara Pandang Sendiri Terkait Seni

Sebaiknya, kita coba menoleh kembali pada kaca mata pandang Islam. Agama yang menjadi kebanggaan kaum santri dan tentunya kota santri tercinta ini. Sebab Islam adalah sebuah pandangan hidup yang akan menuntun manusia hidup sesuai fitrahnya. Dengan Islam, manusia mampu meraih kebahagiaan di dunia tanpa mengisolasinya untuk berkreatifitas atas nama seni. Terlebih, manusia tidak hanya merasakan kebahagiaan di dunia saja, namun di akhirat juga.

Dalam Islam, semua perbuatan manusia terikat dengan hukum-hukum Islam, termasuk dalam berkarya seni. Dan tidaklah seorang muslim melakukan perbuatan kecuali setelah mengetahui hukumnya. 

Disinilah prinsip kita dalam berkarya seni. Dan hal ini jelas berbeda dengan pandangan Sekuler yang memisahkan agama dari seni.

Islam adalah agama syari'at. Peradabannya telah menunjukkan betapa syari'at telah mewarnai masyarakat Islam dengan warna yang khas. Kemajuan peradaban Islam juga terlihat dari berbagai hasil karya seni yang tak mengisolasi kreatifitas generasi. 

Namun, Islam mengaturnya dengan landasan yang baku yaitu Syari'at. Seni yang dilarang adalah apabila dengannya akan merusak agama, amal dan iman umat. Seperti JFC ini, jelas merusak agama, amal dan iman seseorang. 

Jadi, seni dan kreatifitas tetap wajib menjadikan syari'at sebagai parameternya. Sebab rahmat Allah terkandung di dalam penerapannya. Siapa saja yang menginginkan kota Jember ini berkah, selamat dunia akhirat, jadilah masyarakat dan kota yang bersyari'at. 

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengutip 'dawuh'nya imam Syafi'i, beliau pernah menyampaikan bahwa "Dunia ini hanya sesaat, maka isilah setiap momen hidup itu dengan ketaatan". Jadi, apapun yang kita lakukan di dunia ini, ketika itu tidak dilandaskan pada ketaatan terhadap Syari'at Allah. Jangan harapdiri kita akan selamat di dunia dan akhirat.

Pengirim : Yulida Hasanah, FORSIMA (Forum Silaturahmi Ustazah dan Muballighoh) Tinggal di Jember, Jawa Timur.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA