Sunday, 17 Zulhijjah 1440 / 18 August 2019

Sunday, 17 Zulhijjah 1440 / 18 August 2019

Ini Permintaan Miliarder Hong Kong Terkait Protes Masif yang Terjadi

Rabu 14 Aug 2019 14:35 WIB

Rep: Clara Aprilia Sukandar(Warta Ekonomi)/ Red: Clara Aprilia Sukandar(Warta Ekonomi)

Ini Permintaan Miliarder Hong Kong Terkait Protes Masif yang Terjadi. (FOTO: Reuters)

Ini Permintaan Miliarder Hong Kong Terkait Protes Masif yang Terjadi. (FOTO: Reuters)

Harta kekayaan miliarder juga menjadi berkurang akibat aksi Hong Kong.

Protes masif di Hong Kong masih terjadi. Akibatnya, harta kekayaan miliarder juga menjadi korban. Untuk itu, miliarder Hong Kong akhirnya angkat suara menolak protes besar-besaran di negerinya tersebut.

Miliarder Peter Woo Kwong-ching mengatakan tindakan anarkis yang terjadi di sana mirip tindakan terorisme.

Baca Juga: Sebut Aksi Hong Kong Sebagai Kerusuhan, Trump: Ini Situasi yang Sangat Sulit

Melansir dari South China Morning Post, Woo mengatakan, "Tindak kekerasan yang melanggar hukum dan intimidasi terhadap masyarakat sipil demi mengejar tujuan politik, beberapa orang bilang itu adalah definisi terorisme di Kamus Bahasa Inggris Oxford. Saya meminta kepada setiap kelompok: baik yang merah, kuning, biru, putih atau hitam, tolong jangan menggunakan kekerasan."

Para taipan properti di Hong Kong mulai dari CK Hutchison, Henderson Land Development, Sun Hung Kai Properties, dan New World Development, juga menyiarkan petisi agar masyarakat menyetop semua protes ilegal. CK Hutchison sendiri adalah perusahaan milik miliarder terkaya Hong Kong, Li Ka-shing.

Baca Juga: Selamat Tinggal! Orang Kaya di Hong Kong Kehilangan Status Miliarder

Miliarder properti buka suara karena mal-mal di sana sedang dilemma, antara memilih melarang polisi masuk ke mal untuk meringkus pendemo atau membiarkan mereka masuk.

Mal milik miliarder Peter Woo kena damprat media pemerintah China karena "melindungi" pendemo. Sebaliknya, jika pengelola mal membiarkan polisi masuk mal, maka pihak pendemo akan murka.

Peter Woo berkata demo mestinya sudah berakhir karena tuntutan membatalkan RUU Ekstradisi sudah berhasil. Namun, kini pendemo ingin Pemimpin Eksekutif Carrie Lam mundur sebagai satu dari lima tuntutan mereka.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan Warta Ekonomi. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Warta Ekonomi.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA