Sunday, 17 Zulhijjah 1440 / 18 August 2019

Sunday, 17 Zulhijjah 1440 / 18 August 2019

Tajuk Republika: Jangan Biarkan Warga Terus Menderita

Rabu 14 Aug 2019 07:47 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Sejumlah peserta upacara peringatan HUT ke-62 Provinsi Riau mengenakan masker medis akibat asap menyelimuti Kota Pekanbaru, Jumat (9/8/2019).

Sejumlah peserta upacara peringatan HUT ke-62 Provinsi Riau mengenakan masker medis akibat asap menyelimuti Kota Pekanbaru, Jumat (9/8/2019).

Foto: Antara/FB Anggoro
Warga Sumatra dan Kalimantan rentan terkena ISPA karena kabut asap

REPUBLIKA.CO.ID, Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Sumatra dan Kalimantan telah menimbulkan dampak kesehatan terhadap warga. Penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menyerang ratusan ribu warga di daerah terdampak karhutla.

Di Sumatra Selatan (Sumsel), jumlah penderita ISPA mencapai 274.502 orang selama periode Januari-Juni 2019. Kepala Dinas Kesehatan Sumsel Lesty Nuraini mengatakan, penyakit ISPA makin rentan menyerang saat musim kemarau yang memicu terjadinya karhutla di beberapa lokasi di Sumsel.

Jumlah penderita ISPA paling banyak berada di Kota Palembang. Sejak awal tahun, ada 80.162 orang yang terkena ISPA, kemudian disusul Banyuasin dengan penderita mencapai 36.871 orang, Muara Enim sejumlah 35.405 orang, Musi Banyuasin 21.871 orang, dan Ogan Komering Ilir 13.292 orang.

Penyakit ISPA juga menyerang warga di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru telah menginstruksikan seluruh pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) untuk siaga melayani warga yang terserang penyakit akibat kabut asap. Pekan lalu, tercatat sebanyak 1.136 warga Pekanbaru terserang ISPA yang diduga akibat terpapar kabut asap.

Dampak kesehatan akibat karhutla ini sudah terjadi sejak bencana menimpa beberapa tahun lalu. Peneliti Universitas Harvard, Amerika Serikat, Tianjia Liu, dalam artikel "Jurnal Fires, Smoke Exposure, and Public Health: An Integrative Framework to Maximize Health Benefits from Peatland Restoration” menyatakan jika pengendalian karhutla tidak berjalan maksimal dalam jangka panjang, diprediksi terjadi kematian 36 ribu jiwa per tahun akibat penyakit ISPA selama 2020 hingga 2030.Tianjia Liu dalam diskusi bertema "Ongkos Kesehatan dari Bencana Kebakaran Hutan dan Gambut", di Jakarta, Selasa, (13/8), mengatakan, dari 36 ribu jiwa yang terancam keselamatannya tersebut, sebanyak 92 persennya berasal dari Indonesia. Sisanya, tujuh persen di Malaysia dan satu persen di Singapura.

Penelitian tersebut mengambil peristiwa kebakaran hutan hebat yang terjadi di Indonesia pada 2015. Ia menyebut, potensi kerugian material mencapai 16 miliar dolar AS di luar kerugian kesehatan. Kondisi yang terjadi di lapangan dan penelitian terhadap dampak karhutla tak bisa dianggap remeh.

Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengatakan, kabut asap membuat seseorang rentan menderita ISPA. Karhutla berdampak pada kesehatan, termasuk ISPA, yang menyerang anak-anak kecil hingga orang tua yang menderita asma akan kesulitan bernapas.

Karena itu, Nila berharap pemerintah daerah segera mengatasi karhutla yang terjadi. Untuk membantu pemerintah daerah, Kemenkes telah mengirimkan bantuan masker dan pelayanan kesehatan.

Pemerintah daerah dan pemerintah pusat perlu mengantisipasi dampak kesehatan akibat karhutla ini. Pemda perlu menyiagakan fasilitas pelayanan kesehatan guna mengantisipasi dampak karhutla sebab musim kemarau masih akan panjang.

Pemerintah pusat juga perlu turun tangan secara total untuk mencegah karhutla makin meluas. Jangan biarkan pemerintah daerah kesulitan mengatasi masalah ini sendiri. Jangan biarkan warga lebih lama lagi menderita.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA