Senin, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Senin, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Hadapi Perang Mata Uang, Pemerintah Andalkan Investasi

Rabu 14 Agu 2019 01:33 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Friska Yolanda

YUAN. Petugas bank menghitung dolar AS di samping tumpukan yuan Cina di Hai'an, Provinsi Jiangsu, China, Selasa (6/8). Nilai tukar yuan Cina merosot tajam atas dolar AS sebagai akibat dari perang dagang dengan Amerika Serikat.

YUAN. Petugas bank menghitung dolar AS di samping tumpukan yuan Cina di Hai'an, Provinsi Jiangsu, China, Selasa (6/8). Nilai tukar yuan Cina merosot tajam atas dolar AS sebagai akibat dari perang dagang dengan Amerika Serikat.

Foto: Chinatopix via AP
Pelemahan mata uang Cina, yuan, akan berimbas ke perekonomian nasional.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah menyadari risiko yang bisa berimbas terhadap perekonomian global akibat pelemahan mata uang Cina, Yuan. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan, salah satu jurus yang disiapkan pemerintah adalah terus menjaga kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Tanah Air. Cara ini diyakini mampu menjaga fundamental ekonomi nasional yang tahan terhadap guncangan ekonomi global akibat devaluasi Yuan.

"Kita lihat kebijakan apa yg bisa kita dorong untuk seperti arah Pak Presiden untuk meningkatkan investasi, salah satu kunci bagi Indonesia salah satunya meningkatkan investasi untuk ekspor. Momentum ini bagaimana dimaksimalkan," kata Airlangga. 

Baca Juga

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebutkan bahwa pelemahan mata uang Cina, yuan, akan berimbas ke perekonomian nasional. Menurutnya, pelemahan mata uang Cina ke level 7 yuan per dolar AS bisa berimbas pada nilai tukar rupiah, indeks harga saham, hingga imbal hasil obligasi. 

"Transmisi dari pengaruh global ini suka atau tidak suka pasti akan terasa. Tapi faktor fundamental kita bagi Indonesia untuk tetap bisa tumbuh dan pertahankan pertumbuhan di atas 5 persen tanpa menimbulkan kerapuhan dengan lingkungan global yang sangat volatile ini," jelas Sri.

Selasa (13/8) sore, Presiden Jokowi memang mengumpulkan menteri-menteri ekonomi di Istana Merdeka. Jokowi meminta penjelasan dari jajarannya terkait pelemahan mata uang Cina, Yuan, terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 

Dugaan devaluasi Yuan sebelumnya sudah dibantah Bank Sentral China, People's Bank of China (PBoC). Mereka menyebut volatilitas nilai tukar yuan secara drastis beberapa waktu belakangan merupakan reaksi pasar menanggapi rencana kenaikan tarif impor yang digaungkan Amerika Serikat (AS).

Komentar Beijing ini merespons tuduhan manipulasi mata uang yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump kepada Cina, setelah mata uang Cina bergerak di 6,9 hingga tujuh yuan per dolar AS dalam satu pekan terakhir. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA