Saturday, 23 Zulhijjah 1440 / 24 August 2019

Saturday, 23 Zulhijjah 1440 / 24 August 2019

Ini Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Versi Rizal Ramli

Senin 12 Aug 2019 14:21 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolanda

Mantan Menko Kemaritiman era Presiden Joko Widodo Rizal Ramli saat menyampaikan pandangan tentang kondisi ekonomi nasional di Jakarta, Senin (12/8).

Mantan Menko Kemaritiman era Presiden Joko Widodo Rizal Ramli saat menyampaikan pandangan tentang kondisi ekonomi nasional di Jakarta, Senin (12/8).

Foto: Republika/Dedy D Nasution
Pemerintah harus segera mencari solusi untuk menekan tingkat CAD. 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman era Presiden Joko Widodo, Rizal Ramli menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini akan anjlok dibanding tahun-tahun sebelumnya. Indikator makro ekonomi menunjukkan gejala krisis. Rizal menyebut, pertumbuhan ekonomi nasional hingga penghujung tahun berpotensi turun ke angka 4,5 persen. 

"Kami ingin katakan bahwa tahun ini ekonomi Indonesia akan semakin nyungsep. Paling hanya 4,5 persen dari target pemerintah 5,2 persen. Indiktor makro makin merosot," kata Rizal kepada wartawan di Jakarta, Senin (12/8). 

Baca Juga

Mantan Menteri Keuangan era Presiden Abdurrahman Wahid itu menuturkan, prediksi ekonomi yang ia sampaikan kerap kali dibantah oleh banyak pihak. Namun, melihat prediksi-prediksi sebelumnya, termasuk soal krisis ekonomi 1998 yang ia sampaikan tahun 1996 nyatanya terjadi. Salah satu indikator makro ekonomi yang disorot mengenai kondisi defisit transaksi berjalan atau current account defisit (CAD) yang mengkhawatirkan.

Pada kuartal II 2019, Bank Indonesia mencatat CAD sebesar 8,4 miliar dolar AS atau 3 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka itu membengkak dibanding kuartal I 2019 sebesar 7 miliar dolar AS, atau 2,6 persen dari PDB. 

"Defisit transaksi berjalan makin lama makin merosot. Ini sebetulnya sangat membahayakan," kata Rizal. 

Rizal mengatakan, pelebaran pada angka defisit transaksi berjalan menunjukkan kondisi yang tidak seimbang pada neraca jasa dan neraca perdagangan barang. Pemerintah harus segera mencari solusi untuk menekan tingkat CAD. 

Lebih lanjut, Rizal juga menyoroti mengenai defisit perdagangan yang masih terjadi saat ini. Sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca dagang bulan Juni 2019 mencatatkan surplus 200 juta dolar AS. Namun, secara kumulatif Januari-Juni 2019, neraca perdagangan defisit 1,93 miliar dolar AS. Angka defisit kumulatif itu jauh lebih besar dibanding periode Januari-Juni 2018 sebesar 1,20 miliar dolar AS. 

"Neraca perdagangan Indonesia juga semakin defisit. Negara tetangga Myanmar, Thailand, dia malah surlus. Ini karena kita tidak pernah melakukan simulasi, jadi seperti negara yang kagetan," katanya.

Ia menegaskan, menjaga dan mengembangkan perekonomian nasional bukan hanya dengan membuat proyek pembangunan tetapi juga fokus pada kondisi makro ekonomi, daya beli masyarakat, hingga ketersediaan lapangan pekerjaan. "Kalau hanya fokus pada proyek, lama-lama ekonomi jebol," katanya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA