Wednesday, 6 Zulqaidah 1442 / 16 June 2021

Wednesday, 6 Zulqaidah 1442 / 16 June 2021

Imran Khan: Penghapusan Status Kashmir Terinspirasi Nazi

Ahad 11 Aug 2019 22:49 WIB

Rep: Rossi Handayani / Red: Nashih Nashrullah

Tentara paramiliter India berjaga di jalanan yang sepi saat jam malam di Srinagar, Kashmir yang dikuasai India, Kamis (8/8).

Tentara paramiliter India berjaga di jalanan yang sepi saat jam malam di Srinagar, Kashmir yang dikuasai India, Kamis (8/8).

Foto: AP Photo/Dar Yasin
Penghapusan status istimewa Kashmir picu ketegangan.

REPUBLIKA.CO.ID,  ISLAMABAD – Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, mengatakan keputusan India untuk menghapus status khusus Kashmir diilhami oleh ideologi Nazi.

"Jam malam, tindakan keras, dan genosida Kashmir yang akan datang di Kashmir sedang berlangsung persis (sesuai) dengan ideologi RSS yang diilhami oleh ideologi Nazi," cicit Khan, dilansir Aljazirah, Ahad (11/8).  

Baca Juga

Pakistan telah menurunkan hubungan diplomatiknya dan menghentikan perdagangan bilateral dengan India. Ini karena keputusan New Delhi untuk mencabut Pasal 370 konstitusi India, dan membagi negara mayoritas Muslim menjadi dua wilayah persatuan.  

Perdana Menteri India, Narendra Modi mencabut status istimewa negara bagian Jammu dan Kashmir pada Senin (5/8). Pencabutan ini membatalkan pasal 370 konstitusi India. Modi menyatakan, pencabutan status bertujuan untuk menyatukan daerah tersebut dengan India.

Pada Selasa (6/8), India kemudian menurunkan status Jammu dan Kashmir menjadi dua wilayah Union Territory (UT), yaitu Jammu dan Kashmir, serta Ladakh. Status UT membuat kedua wilayah dipimpin pemerintah pusat langsung.   

Otoritas di Kashmir menyatakan bahwa mereka melonggarkan pembatasan pada Ahad (11/8), di sebagian besar kota utama Srinagar menjelang perayaan Idul Adha. 

Pejabat pengadilan rendah Shahid Choudhary dalam sebuah tweet menyatakan, lebih dari 250 ATM telah berfungsi. Selain itu cabang-cabang bank dibuka bagi orang-orang untuk menarik uang menjelang Idul Adha pada Senin (12/8). 

Tidak ada konfirmasi independen langsung dari laporan oleh pihak berwenang bahwa orang mengunjungi daerah perbelanjaan untuk pembelian pada perayaan. Sementara semua komunikasi, dan internet tetap terputus untuk hari ketujuh. 

Pihak berwenang bertindak dengan hati-hati, karena takut akan reaksi balik dari warga yang terpaksa tinggal di dalam rumah dari Senin lalu.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA