Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Majapahit, Jendral Tran, Kwan Kong, dan Kamikaze

Senin 12 Aug 2019 17:03 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Tindakan kamikaze (bunuh diri) tentara Jepang di perang dunia II.

Tindakan kamikaze (bunuh diri) tentara Jepang di perang dunia II.

Foto: wikipedia
Sejarah Majapahit Indonesia banyak yang hanya dinarasikan.

Oleh: Teguh Setiawan, Jurnalis Senior

Pagi ini saya mendapat WA dari Ibrahim Ajie, yang menanyakan pendapat saya soal kehadiran patung Kwan Kong, atau Dewa Perang dalam kepercayaan Tao, di Tuban. Saya tidak langsung menjawab, tapi bertanya-tanya bukankah yang biasa bertanya soal ini adalah Muhammad Subarkah.

Akhirnya saya jawab saja. Dulu, di era Dinasti Yuan, tentara Cina-Mongol -- saat itu daratan Cina dikuasai Mongol -- kerap membawa patung Kwan Kong ke wilayah yang diinvasi. Mereka mendirikan kuil di wilayah taklukan, dan meletakan patung Kwan Kong di dalamnya, sebagai rasa syukur.

Saat menyerang Jepang, Pulau Jawa, dan Vietnam, mereka juga membawa patung Kwan Kong. Namun, mereka tidak sempat mendirikan kuil untuk Kwan Kong.
Di Jepang, dua serangan Cina-Mongol digagalkan topan kamikaze. Di Vietnam, tiga kali invasi Cina-Mongol digagalkan Jendran Tran Hung Dao. Di Jawa, tepatnya di Tuban, Tentara Jawa menghalau serangan Cina-Mongol.

Orang Jepang mengabadikan kamikaze untuk banyak hal, sebagai wujud terima kasih kepada peristiwa alam yang melindungi mereka dari serangan Cina-Mongol. Salah satunya menjadi nama operasi serangan bunuh diri saat Jepang menghadapi AS di Perang Pasifik.

Di Ho Chi Minh City, patung Tran Hung Dao berdiri gagah -- dengan tangan menunjuk ke bawah dan dagu lurus -- menghadap ke daratan Cina. Jenderal Tran adalah 'dewa perang' Vietnam. Ia menginspirasi rakyat Vietnam untuk melawan Prancis dan memerdekakan diri, melawan AS untuk menyatukan Vietnam.

Hasil gambar untuk Tran Hung Dao

         Keterangan: Patung Jendral Tran Hung Dao, di Ho Chi Minh City

Di Jawa, figur pemimpin yang mengalahkan pasukan Cina-Mongol seolah terlupa. Tidak ada patung para pendiri Majapahit Raden Wijaya, Ronggolawe atau siapa pun yang terlibat dalam pengusiran pasukan Cina-Mongol kala itu.

Sejarah serangan Cina-Mongol ke Jawa hanya dinarasikan, menjadi sumber penelitian sarjana sejarah, tapi masyarakat yang mewariskan cerita itu tidak pernah mengenal sosok pahlawan yang diabadikan. Terjadi 'kekosongan' sejarah, yang coba diisi oleh orang lain.

Kekalahan di Tuban, seperti kegagalan invasi ke Vietnam, adalah peristiwa memalukan bagi Cina-Mongol. Anehnya, orang Jawa seakan tidak pernah bangga bahwa mereka pernah mengalahkan satu kekuatan besar.

Pertanyaannya, bagaimana kita memaknai kehadiran patung Kwan Kong di Tuban, wilayah yang tidak pernah ditaklukan pasukan Cina-Mongol?

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA