Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Pak Haji Melawan Penjajah

Ahad 11 Aug 2019 10:09 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Jamaah haji saat masih menumpang kapal laut.

Jamaah haji saat masih menumpang kapal laut.

Foto: troppen museum
Di masa penjajahan, umat Islam yang sudah berhaji menjadi motor pergerakan perlawanan

REPUBLIKA.CO.ID, Sejak Sabtu (10/8) waktu Arab Saudi, jamaah calon haji Indonesia sudah berangkat ke Arafah. Pergi haji untuk umat Islam Indonesia perlu kesabaran karena ada pembatasan dan harus antre bertahun-tahun. Akibat keterbatasan inilah, banyak orang yang mengalihkan ke ibadah umrah. 

Bagi umat Islam di Indonesia, keinginan menunaikan rukun Islam ini tidak terbendung, termasuk di masa-masa penjajahan. Menunaikan ibadah haji makin besar jumlahnya, terutama sejak dibukanya Terusan Suez pada 1869 dan disusul dengan adanya kapal uap.

Perjalanan yang sebelumnya memerlukan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun dengan kapal layar, kini dapat ditempuh dalam sebulan lebih. Bahkan, sampai 1970-an mayoritas jamaah menunaikan ibadah haji dengan kapal laut. Kala itu, masih jarang orang pergi haji dengan pesawat terbang.

Untuk membuktikan pergi haji telah dilakukan selama berabad-abad lalu dapat kita lihat dari banyaknya mukimin yang menjadi syekh ketika sistem ini diberlakukan dan baru berakhir pada 1980-an. Di antara keturunan mereka ada yang memegang jabatan penting di Arab Saudi. Pada 1974, ketika saya menunaikan ibadah haji, kebanyakan mereka tidak lagi pandai berbahasa Indonesia.

Berdasarkan laporan resmi Pemerintah Hindia Belanda pada 1941, pada 1878 (dengan kapal layar) jamaah haji Indonesia sekitar 5.331 oarng. Setahun kemudian (1880), menjadi 9.542 jamaah atau naik hampir dua kali lipat.

Contoh di bawah ini menunjukkan bagaimana besarnya minat umat Islam Indonesia menunaikan ibadah haji. Pada 1921 sebanyak 28.795 jamaah indonesia dari 60.786 jamaah seluruh dunia yang pergi menunaikan ibadah haji.

Bahkan, saat resesi ekonomi pada 1928 jamaah haji Indonesia justru meningkat menjadi 28.952 dari 52.412 jamaah seluruh dunia. Masih dalam krisis ekonomi global (1931, 1932, dan 1932) jamaah haji Indonesia justru berjumlah di atas 39 ribu orang.

H Aqib Suminto dalam buku Politik Islam Hindia Belanda menuturkan, perkembangan hubungan dengan Timur Tengah dan semakin banyaknya jumlah haji setelah menggunakan kapal uap memengaruhi perkembangan di Indonesia. Hal inilah yang membuat Belanda menempatkan konsulnya di Jeddah dan kemudian menjadi Kedutaan.

Apalagi, saat itu tokoh-tokoh pergerakan yang menunaikan ibadah haji dianggap melakukan pemurnian Islam. Timbullah reformasi kelompok yang ingin meremajakan Kehidupaan Islam di nusantara. 

Seperti tercatat dalam berbagai buku sejarah Islam, sampai akhir abad ke-19 banyak terjadi perlawanan umat Islam terhadap penjajah. Misalnya, kegaduhan di desa-desa sering dilakukan para ulama yang banyak di antaranya adalah haji.

Belanda melihat kegaduhan ini dengan mempertimbangkan kepentingan kekuasaannya di Indonesia, sehingga mereka menganggap para haji sebagai orang-orang fanatik dan pemberontakan. Sejak lama, masyarakat Belanda di Indonesia takut terhadap tarekat yang berkembang di Indonesia dan dibawa oleh para haji. Apalagi, pada akhir abad ke-19, menurut Suminto, mukimin Indonesia termasuk yang jumlahnya besar dan banyak di Tanah Suci.

Kekhawatiran semacam ini tampak jelas pada peristiwa Cianjur (1883), Cilegon (1888), dan Garut (1919). Dalam peristiwa pemberontakan Garut, Sarikat Islam yang baru diresmikan HOS Tjokroaminoto yang baru saja diresmikan dituduh terlibat.

Pemberontakan-pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Belanda juga terjadi di Tambun (Bekasi) dan Tangerang pada 1924. Pemberontakan di Tangerang dipelopori sejumlah tokoh di Desa Pangkalan Tangerang. Tokoh-tokoh itu berpidato di hadapan massa sambil menyerukan perlawanan terhadap Belanda dengan ucapan Allahu Akbar.

Mr Hamid Algaderi dalam buku Peran Keturunan Arab di Indonesia menyebutkan kalau gerakan tarekat merupakan bahaya yang berasal dari Gerakan Pan Islam. Gerakan itu dianggap bahaya dari luar. Kala itu, banyak keturunan Arab di Indonesia yang meneruskan gerakan Pan Islam, seperti tokoh-tokoh Said Jamaluddin Afghani, Syekh Muhammadd Abduh, dan Sayid Rayid Ridha.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA