Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Berkurban Sebagai Tanda Cinta

Sabtu 10 Aug 2019 20:32 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Hewan kurban

Hewan kurban

Foto: Republika TV/Muhammad Rizki Triyana
Peristiwa kurban hendaknya bisa lebih kita maknai bukan hanya sekedar menyembelih

Dalam hadist, Zaid ibn Arqam, ia berkata”Wahai Rasulullah SAW, apakah kurban itu?” Rasulullah menjawab ”kurban adalah sunahnya bapak kalian, yakni Nabi Ibrahim AS.”

Mereka menjawab ”apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan kurban itu?” Rasulullah menjawab “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.”

Mereka menjawab ”kalau bulu-bulunya?” Rasulullah menjawab ”Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.” HR Ahmad dan ibn Majah

Dalam sejarah, kurban merupakan peristiwa perintah Tuhan kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putranya yakni Nabi Ismail as. Tuhan menguji keimanan Nabi Ibrahim AS apakah ia lebih cinta kepada Tuhan (Khalik) atau lebih cinta terhadap anaknya (Nabi Ismail AS). Betapa berat ujian dan cobaan yang diterima Nabi Ibrahim AS ketika diperintah oleh Tuhan agar siap dan ikhlas mengorbankan yang paling dicintainya di dunia ini, yakni Nabi Islamil AS.

Putra tercinta yang sudah bertahun-tahun diidam-idamkan kehadirannya.  Namun, keimanan Nabi Ibrahim AS sangatlah kuat, ia tak sedikitpun ragu dalam hal melaksanakan apa yang diperintah oleh Tuhan. Sehingga buah dari ketaatannya kepada Tuhan, Nabi Ismail AS diselamatkan oleh-Nya. 

Menyimak dari peristiwa sejarah kurban tersebut, timbullah pertanyaan, kira-kira mampukah kita melaksanakan perintah Tuhan itu jika perintah itu datang kepada kita? Relakah kita berjuang dengan mengorbankan sesuatu yang paling berharga untuk kepentingan agama? Ataukah malah sebaliknya kita rela mengorbankan agama untuk kepentingan kita.

Peristiwa kurban hendaknya bisa lebih kita maknai bukan hanya sekedar menyembelih hewan kurban semata, tetapi lebih dari itu kita harus bisa menangkap makna yang terkandung dalam perintah-Nya. Hakikat kurban memang sangatlah relatif, yang pasti Tuhan tidak membutuhkan di balik perintah-Nya, melainkan rasa cinta kita dengan mendekatkan diri kepada-Nya. Sebagaimana tertulis dalam al-Quran surat al-Kautsar ayat 2, yang artinya :

“Maka laksanakanlah shalat karena Tuhan-mu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)”

Berkurban juga merupakan sebagai tanda cinta terhadap sesama. Dengan berkurban kita dilatih untuk peka dan peduli kepada sesama. Hal ini dalam rangka menumbuh kembangkan spirit pengorbanan untuk berbagi dengan yang lain dalam rangka pembentukan karakter masyarakat dan bangsa yang beradab. dibuktikan dengan membagikan daging kurban untuk dinikmati orang lain, dengan memprioritaskan kaum fakir miskin yang lebih membutuhkan. 

Sudah selayaknya momentum idul adha atau yang sering kita sebut idul kurban bukan hanya dijadikan hal yang bersifat rutinitas belaka yang terlaksana tanpa makna, melainkan momentum itu dijadikan sebagai upaya refleksi kita dalam menjalani hidup ini agar menjadi lebih cinta; cinta kepada Tuhan sebagai pencipta dan cinta terhadap sesama.

Selamat Hari Raya Idul Kurban 1440 H.

Penulis : Afip Miftahul Basar, MPd, Guru SMPIT Nurul Fajri Cikarang Barat-Bekasi

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA