Monday, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Monday, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Di Kulonprogo, Petani Cabai Manfaatkan Lahan Pasir

Sabtu 10 Aug 2019 16:05 WIB

Red: EH Ismail

Dirjen Hortikultura menyirami tanaman cabai

Dirjen Hortikultura menyirami tanaman cabai

Foto: Humas Kementan
Dirjen Hortikultura menyaksikan cabai memenuhi lahan yang hampir sulit ditanami,

REPUBLIKA.CO.ID, KULONPROGO--Adalah pemandangan umum melihat pertanaman cabai di lahan bertanah. Namun pernahkah menemukan hamparan cabai di lahan berpasir laut? Adalah hal tidak mustahil untuk dilakukan para petani di Kulonprogo tepatnya di sepanjang Pantai Parang Trisik.

Tiba di areal pertanaman, Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto disuguhi berbidang aneka cabai rawit varietas Hilux tumbuh subur. Hal yang menggembirakan adalah kendati tumbuh di lahan berpasir, 1 pohon bisa menghasilkan 2 kg cabai. 

“Ini sudah 12 kali panen, pak. Hasilnya bagus dan ukuran buahnya besar-besar. Tiap harinya kami bisa kirim hingga ke lima titik di Jakarta. Pokoknya hasilnya berlimpah,” ujar Ketua Kelompok Tani Sidodadi Ngatimin.

Penuh antusias, Dirjen yang akrab dipanggil Anton ini melihat satu per satu tanaman. Seakan tidak percaya, Dirjen Hortikultura menyaksikan cabai memenuhi lahan yang hampir sulit ditanami. 

“Ini luar biasa ya, dengan bermodalkan pupuk kandang kotoran ayam dan air, cabai bisa tumbuh subur di sini. Bahkan bisa mengisi pasar Jakarta,” ujar Anton semangat. 

Ngatimin juga bercerita bahwa umur tanaman cabainya dalam 75 hari sudah dapat dipanen. Petani sekitar juga disiplin untuk mengganti komoditas tanamannya apabila sudah 12 sampai 15 kali panen. Mereka menjaga betul komitmen ini sebagai upaya memutus siklus hama. 

Tidak sekedar bertanam, Ngatimin bersama petani lain juga mengembangkan benih lokal. Upaya ini dilakukan agar petani mandiri dan tidak ketergantungan produksi benih yang dijual di pasaran. 

Tak berlokasi jauh dari areal Ngatimin, Anton kembali menyambangi petani yang tengah menyirami tanamannya. Secara spontan dirinya mencicipi air yang digunakan untuk menyiram sebidang lahan. Ajaibnya, air tersebut tidak asin.

“Kembali kita harus bersyukur. Di lahan yang 10 tahun lalu terbengkalai, tumbuh subur cabai. Mulai dari cabai rawit hingga cabai keriting. Airnya pun berlimpah dan meski dekat bibir pantai, ini air tawar,” ujarnya senang. 

Sebagai bahan informasi, pengelolaan lahan berpasir untuk tanam cabai tidaklah sulit. Pasir cukup diberi pupuk kandang sebagai unsur hara dan memperhatikan jadwal penyiraman. Untuk tanaman cabai rawit, penyiraman dilakukan tiap tiga hari sekali. Sementara untuk cabai keriting atau cabai besar, penyiraman dilakukan setiap hari.

"Saya terharu, anugerah Allah ternyata luar biasa, lahan berpasir yang sangat miskin unsur hara ternyata bisa bermanfaat buat masyarakat disekitar sini," ujarnya

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA