Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

Rusia Serukan AS Ikut Moratorium Penempatan Rudal

Sabtu 10 Aug 2019 11:43 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Reiny Dwinanda

Kapal penghancur rudal milik Angkatan Laut Amerika Serikat USS Mason.

Kapal penghancur rudal milik Angkatan Laut Amerika Serikat USS Mason.

Foto: presstv.ir
Rusia mendorong AS bergabung dengan moratorium penempatan rudal.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Rusia menyerukan Amerika Serikat (AS) bergabung dengan insiatif untuk mendeklarasikan moratorium penempatan rudal jarak pendek dan menengah. Hal itu disuarakan pasca-bubarnya perjanjian Intermediate-range Nuclear Forces (INF).

“Kami sekali lagi menyerukan Washington dan sekutunya untuk menunjukkan sikap bertanggung jawab serta bergabung dengan moratorium, yang akan meningkatkan prediksi dalam urusan militer dan politik,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova pada Jumat (9/8), dikutip laman kantor berita Rusia TASS.

Rusia menilai, tindakan tersebut memang diperlukan untuk menjamin keamanan global. “Langkah seperti itu akan menunjukkan kepada seluruh komunitas internasional bahwa keamanan global berarti bagi mereka, seperti halnya bagi Rusia,” ujar Zakharova.

Baca Juga

AS memang berencana menempatkan rudal jarak menengah di Asia. Hal itu diumumkan setelah AS resmi hengkang dari perjanjian INF. 

“Ya, saya ingin,” kata Menteri Pertahanan AS Mark Esper saat ditanya apakah dia mempertimbangkan menempatkan rudal jarak menengah di Asia.

Dia menginginkan hal itu dapat direalisasikan dalam waktu beberapa bulan. “Tapi hal-hal ini cenderung memakan waktu yang lebih lama dari yang Anda perkirakan,” ujarnya.

Esper belum memberitahu di mana rudal-rudal itu akan ditempatkan di Asia. Dia hanya menyatakan akan melakukan pertemuan dengan para pemimpin di Asia selama melakukan kunjungan ke sana.

Rusia dan AS diketahui telah sama-sama keluar dari perjanjian Intermediate-range Nuclear Forces (INF) yang ditandatangani pada 1987. Perjanjian itu melarang kedua negara untuk memproduksi serta memiliki rudal nuklir dengan daya jangkau 500-5.500 kilometer.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA