Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Ekonomi Tumbuh, Konsumsi Plastik Diprediksi Ikut Meningkat

Jumat 09 Aug 2019 06:07 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolanda

Pemulung Maryani (64 tahun) memilah bekas minuman kemasan plastik yang dikumpulkannya untuk dijual di Kampung Pulo Geulis RT 02/04, Kelurahan Babakan Pasar, Kota Bogor, Jawa Barat, Jum'at (12/7/2019).

Pemulung Maryani (64 tahun) memilah bekas minuman kemasan plastik yang dikumpulkannya untuk dijual di Kampung Pulo Geulis RT 02/04, Kelurahan Babakan Pasar, Kota Bogor, Jawa Barat, Jum'at (12/7/2019).

Foto: Antara/Arif Firmansyah
Konsumsi plastik masyarakat Indonesia per kapita termasuk rendah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Konsumsi masyarakat terhadap plastik dan produk plastik diyakini akan terus bertambah. Asosiasi Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik (Inaplas), mengatakan konsumsi plastik akan berbanding lurus dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. 

Baca Juga

Direktur Olevin dan Aromatik Inaplas, Edi Rivai, memaparkan pada tahun 2017 tingkat konsumsi plastik nasional sebanyak 5,2 juta ton atau 19,8 kilogram per kapita per tahun. 

"Konsumsi produk plastik akan terus naik sekitar 5-6 persen per tahun. Ketika konsumsi plastik naik, maka pasti ekonomi naik. Ekonomi turun, konsumsi juga turun," kata Edi di Jakarta, Kamis (8/8). 

Ia menjelaskan, konsumsi plastik masyarakat Indonesia per kapita termasuk rendah jika dibanding dengan negara-negara tetangga.  Thailand misalnya, konsumsi plastik per kapita sebesar 66,4 kkg per kapita per tahun, Vietnam 42,1 kg per kapita per tahun, dan Malaysia 79,6 kg per kapita per tahun. Data konsumsi tersebut merupakan data tahun 2017 dari Euromap, BPS, dan Inaplas. 

"Secara overall industri plastik akan terus tumbuh mengikuti perkembangan pertumbuhan ekonomi," kata Edi. 

Meskipun konsumsi plastik akan terus meningkat, ia mengatakan, pemerintah tidak perlu merespons dengan melarang penggunaan plastik, seperti pada kantong kresek. Kebijakan pengenaan cukai plastik juga dinilai kurang tepat jika pemerintah ingin menyelesaikan persoalan sampah plastik. 

Seiring bakal meningkatkan konsumsi plastik, siklus daur ulang sampah dalam negeri harus terus ditingkatkan. Pada 2017, tingkat daur ulang sampah baru sekitar 17,4 persen. Rendahnya tingkat daur ulang itu membuat 43,9 persen sampah tidak bisa dikelola dengan baik.

Rendahnya kemampuan penyerapan sampah dalam negeri untuk kembali dijadikan bahan baku produk plastik lantaran sampah di Indonesia masih bercampur. Perlu ada kesadaran masyarakat dan dukungan pemerintah agar pemilahan sampah dari sumbernya bisa dilakukan secara baik. 

Buruknya manajemen sampah di dalam negeri juga menjadi salah satu pemicu adanya impor sampah untuk bahan baku industri. Sebab, sampah yang dikumpulkan di dalam negeri akan susut 20 persen setelah dilakukan pemilahan.

Sementara, sampah impor dapat digunakan secara penuh untuk bahan baku dengan biaya yang lebih murah. "Ini kan anomali, makanya benahi dulu sampah di dalam negeri," ujarnya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA