Sabtu, 23 Zulhijjah 1440 / 24 Agustus 2019

Sabtu, 23 Zulhijjah 1440 / 24 Agustus 2019

Trump: Cina Bunuh Kita dengan Kesepakatan Dagang tak Adil

Kamis 08 Agu 2019 08:21 WIB

Red: Nidia Zuraya

Perang dagang AS dengan Cina

Perang dagang AS dengan Cina

Foto: republika
Perang perdagangan AS-Cina meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden AS Donald Trump pada Rabu (7/8) mengatakan sikap kerasnya terhadap kebijakan ekonomi dan perdagangan China pada akhirnya akan menguntungkan ekonomi Amerika. Bahkan, menurut Trump, hal tersebut tetap menguntungkan AS, meski Beijing mengisyaratkan akan menyerang balik dengan mengekang penjualan bahan kimia yang dikenal sebagai mineral tanah jarang yang digunakan dalam segala hal mulai dari iPhone hingga peralatan militer.

Baca Juga

Perang perdagangan AS-Cina meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir setelah Washington pada Senin (5/8) mencap Beijing sebagai manipulator mata uang untuk pertama kali sejak 1994. Washington juga mengatakan akan memberlakukan tarif tambahan 10 persen pada sisa 300 miliar dolar AS impor Cina, mulai 1 September.

Langkah-langkah itu menyentak pasar keuangan dan memicu kekhawatiran tentang resesi global. Imbal hasil obligasi AS turun pada Rabu (7/8) dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 30-tahun mendekati rekor terendah, di tengah meningkatnya kekhawatiran penurunan global dan spekulasi Federal Reserve harus memangkas suku bunga lebih jauh untuk menghadapi risiko resesi yang semakin besar.

Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa reaksi pasar telah diantisipasi, tetapi ia tetap percaya diri pada kekuatan ekonomi AS. "Pada akhirnya, itu akan menjadi jauh lebih tinggi daripada yang pernah terjadi, karena China seperti jangkar pada kita. Cina membunuh kita dengan kesepakatan dagang yang tidak adil," katanya.

photo

YUAN. Seorang warga melintasi kantor penukaran uang asing yang dihiasi gambar uang berbagai negara di Hong Kong, Selasa (6/8). Nilai tukar yuan Cina merosot tajam atas dolar AS sebagai akibat dari perang dagang dengan Amerika Serikat.

Para pejabat Gedung Putih mengatakan mereka masih mengharapkan para perunding China datang ke Washington pada September untuk mengadakan pembicaraan, dan bahwa tarif terbaru masih dapat dihindari jika dua ekonomi terbesar dunia itu membuat kemajuan dalam perjanjian perdagangan.

Tetapi harapan untuk kesepakatan meredup dan tekanan domestik meningkat bagi Trump untuk memutuskan kesepakatan dengan Beijing.

Goldman Sachs pada Selasa (6/8) mengatakan pihaknya tidak lagi memperkirakan AS dan China akan mencapai kesepakatan sebelum pemilihan presiden November 2020.

Dampak terhadap ekonomi AS

Gary Locke, yang menjabat sebagai duta besar AS untuk China dari 2011 hingga 2014, mengatakan bahwa Washington berkepentingan untuk mengurangi ketegangan dan berupaya mencapai semacam kesepakatan sederhana dengan Beijing.

"Federal Reserve dan yang lainnya memperkirakan tarif yang sudah ada akan merugikan rata-rata rumah tangga Amerika kenaikan harga 1.000 dolar AS," katanya. "Dan kenaikan harga akan membuat perusahaan-perusahaan AS kurang kompetitif di sini dan di luar negeri."

Fred Bergsten, mantan pejabat senior Departemen Keuangan AS, mengatakan pasar keuangan yang bearish dan melemahnya indikator ekonomi AS dapat mendorong Trump untuk menunda tarif 1 September.

"Ekonomi adalah bagian besar dari strategi pemilihannya kembali, jadi dia harus ragu sebelum dia melakukan hal-hal yang dapat melemahkannya," Bergsten, sekarang seorang rekan senior di Peterson Institute for International Economics, mengatakan kepada Reuters.

photo

Bursa saham di Wall Street

"Jika dia mengakui bahwa hanya 'pada akhirnya' yang kita peroleh, maka saya pikir ada kemungkinan dia akan memanggil balik."

Bisnis dan konsumen AS membayar tarif enam miliar dolar AS pada Juni, naik 74 persen dari periode yang sama tahun lalu, koalisi kelompok perdagangan AS mengatakan Rabu (7/8), memperingatkan putaran tarif baru akan memperburuk kehilangan pekerjaan dan permintaan yang menurun.

Jo-Ann Stores, pengecer seni dan kerajinan yang berbasis di Ohio, mengatakan tarif yang diberlakukan pada September 2018 sudah memotong margin keuntungan dan meningkatkan risiko PHK.

"Ini merupakan beban keuangan yang sangat besar," kata Wade Miquelon, CEO Jo-Ann Stores, yang sebelumnya menjabat sebagai chief financial officer dari Walgreens (WBA.O).

Langkah Beijing berikutnya?

Pasar keuangan agak tenang di tengah tanda-tanda bahwa China tidak akan membiarkan yuan melemah lebih jauh setelah membiarkannya tergelincir di bawah 7,0 per dolar untuk pertama kali dalam lebih dari satu dekade. Tetapi China masih memiliki beberapa pengaruh yang tersisa untuk ditarik.

Asosiasi industri rare earth Cina pada Rabu (7/8) mengatakan akan mendukung langkah-langkah penanggulangan dalam meningkatnya sengketa perdagangan dengan AS dan menuduh Washington menggunakan 'perilaku bullying perdagangan' untuk menekan pembangunan Cina.

Asosiasi industri rare earth China mengeluarkan pernyataan setelah pertemuan kerja khusus pada Senin (5/8/2019) untuk membahas "bimbingan" yang diberikan oleh Presiden Cina Xi Jinping selama kunjungannya ke pabrik rare earth di Jiangxi pada Mei.

Kunjungan Xi memicu kekhawatiran China akan menggunakan dominasinya atas produksi rare earth. Rare earth termasuk dalam kelompok 17 elemen kimia yang banyak digunakan dalam industri elektronik dan peralatan militer.

sumber : Antara/Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA