Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

Warga Terdampak Tumpahan Minyak Mengeluh ke Emil

Rabu 07 Aug 2019 17:02 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Christiyaningsih

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, mengunjungi lokasi tumpahan minyak di Desa Cemara Jaya Kecamatan Cibuaya Kabupaten Karawang, Rabu (7/8).

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, mengunjungi lokasi tumpahan minyak di Desa Cemara Jaya Kecamatan Cibuaya Kabupaten Karawang, Rabu (7/8).

Foto: Republika/Arie Lukihardianti
Pendapatan nelayan, pengepul ikan, dan petambak merosot akibat tumpahan minyak

REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG -- Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengunjungi lokasi tumpahan minyak di Desa Cemara Jaya Kecamatan Cibuaya Kabupaten Karawang, Rabu (7/8). Kunjungan pria yang akrab disapa Emil tersebut, tak disia-siakan oleh warga. Mereka mengeluh tak bisa memiliki penghasilan dengan adanya tumpahan minyak tersebut.

Menurut Warga yang mewaikili pengepul ikan bernama Cakim, sejak 19 Juli nelayan tak ada yang beraktivitas di laut. Ini karena laut sudah tercemar limbah. Setiap menebar jaring, lautnya sangat kotor sehingga tak ada ikan yang bisa diambil.

"Pengepul tak dapat penghasilan sama sekali karena tak ada nelayan beraktivitas," ujar Cakim dalam pertemuan bersama Emil.

Namun kata dia untungnya sekarang nelayan dipekerjakan oleh Pertamina untuk mengumpulkan minyak yang tumpah. Begitu juga pengepul ikan mulai dipekerjakan walaupun sebenarnya tak menutup kebutuhan sehari-hari.

"Sampai kapan nelayan bisa melaut agar pengepul bisa dapat keuntungan kembali. Nelayan beraktivitas kan kami punya keuntungan," katanya.

Menurut Ketua Pembudi Daya Udang, Endi Muradeni, tambak udang juga ada yang terkena dampak tumpahan minyak. Saat ini ada 20 petak tapi tak semuanya bisa panen. "Biasanya target 40 ton. Sekarang mungkin hanya 32 ton," katanya.

Nelayan lainnya yang mengeluh bernama Kasri. Menurutnya, per hari dari hasil melaut biasanya bisa mendapatkan Rp 300 sampai Rp 400 ribu bahkan bisa lebih besar lagi. "Sampai kapan kami bisa melaut. Penghasilan dari dipekerjakan Pertamina Rp 100 ribu per hari tidak cukup," katanya.

Menurut Acim petani tambak, petambak banyak yang rugi karena tak bisa berproduksi setelah adanya tumpahan minyak. Sirkulasi air tak bisa dipakai karena pencemaran. Ikan yang sudah dibudidayakan pun tak bisa dipanen karena air tercemar.

"Biasanya per tiga bulan kami bisa panen bandeng. Tapi sampai hari ini tidak bisa panen. Bandeng konsumsi juga tidak bisa panen," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA