Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Telur Penyu Curian Masih Diperdagangkan di Mataram

Rabu 07 Aug 2019 16:12 WIB

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih

Telur Penyu dan Tukik

Telur Penyu dan Tukik

Foto: supporterwwf.org
Keberadaan telur penyu sudah dilindungi Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Telur penyu curian masih diperdagangkan di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Telur-telur itu dijual dengan harga Rp 3 ribu per butir. Padahal keberadaan telur penyu sudah dilindungi Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya.

Dari penelusuran Antara di Pasar Perumnas, Kota Mataram pada Rabu (7/8), sejumlah pedagang mengaku mereka terkadang masih menerima telur penyu. Telur-telur tersebut diterima dari warga sekitar pantai.

“Telur-telur tersebut biasanya kita dapatkan dari masyarakat yang datang langsung menjualnya ke sini meskipun sering merasa khawatir untuk membelinya," kata seorang pedagang satwa yang tidak bersedia disebutkan jati dirinya.

“Masyarakat yang datang ke sini mengaku mendapatkan telur tersebut dengan dipungut dari pantai yang ada di Mataram dan Lombok Utara dan saya juga termasuk salah satu langganannya,” tambahnya.

Lebih lanjut ia mengatakan biasanya penyu naik untuk bertelur satu kali dalam enam bulan. Terkadang juga penyu naik untuk bertelur satu kali dalam setahun. Interval waktu penyu naik menurut pedagang tersebut tidak menentu.

“Saat ini belum musimnya penyu naik untuk bertelur sehingga saya tidak menjualnya sekarang,” katanya.

Di sisi lain beberapa pedagang di Pasar Kebon Roek Kota Mataram mengaku sudah enggan untuk menjual telur penyu. “Kami sudah tidak berani lagi menjual telur penyu sebab sering kali petugas dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB serta Dinas Perikanan Kota Mataram datang untuk memperingati hal tersebut,” katanya.

Sebelumnya Camat Sekarbele Kota Mataram, Cahya Samudra, mengatakan kesadaran masyarakat sangat minim dalam menjaga ekosistem pantai. Kondisi ini tercermin dengan banyaknya praktik perburuan penyu.

“Selama ini perhatian kita masih sangat minim sekali dalam menjaga ekosistem penyu. Banyaknya tumpukan sampah di pesisir pantai mengancam kepunahan terhadap satwa ini. Selain itu juga maraknya praktik penjualan telur penyu dan penyunya, serta adanya info pembantaian penyu mengakibatkan upaya pengembangan eduwisata terhalang,” katanya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA