Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Rambutan Bimbo Ragunan, Hingga Kabin Paman Tom Amerika

Rabu 07 Aug 2019 08:44 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Bimbo

Bimbo

Foto: Republika
Kenangan menonton bimbo hingga membaca kisah Paman Tom Amirka

Oleh: Fachry Ali, Cendikiawan dan Pengamat Sosial Politik

Saya ingat masa remaja di Ragunan, Pasar Minggu Jakarta Selatan diselenggarakan ‘Pesta Musik Musim Panas 1972'. Acara itu berlangsung di sebuah studio film yang baru dibangun di Manggabesar —‘ibu kota’ Kelurahan Ragunan. Pesta itu bukan saja meriah, tetapi juga berkarcis mahal. Sebagai anak kampung Ragunan, saya tak mampu membayar karcis itu. Jalan keluarnya adalah menaiki pohan rambutan yang ketinggiannya melebihi tembok studio.

Di malam musim kemarau itulah saya menyaksikan sesuatu yang baru. Setelah beberapa pertunjukan group musik sepert Koesplus dan sebuah musik yang wakili Singapura. Pemandu acara berkata: sekarang kita tampilkan kelompok musik khas yang menggunakan kecapi. Siapa mereka? Penonton menjawab: Trio Bimbo!

Sebagai anak kampung, group ini belum pernah saya dengar. Tapi, tampilannya memukau. ‘Kami berasal dari Sunda,’ ujar Sam, kala itu jika saya tak salah dengar. Tapi dia memang benar. Syam kemudian berkata, karena musik kami dipengaruhi alam Sunda. Maka di situlah pertama kalinya saya dengar lagu romantik ‘Melati dari Jayagiri’.

 

Fachry Ali dan Syam Bimbo

Dan, kemarin, Selasa 6 Agustus 2019, saya bertemu Syam Bimbo di kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakpus. Penyair senior Taufiq Ismail mengundang kami memekam pembacaan puisinya: ‘Dengan Puisi, Aku’. Sementara seseorang membaca terjemahan puisi itu ke dalam bahasa Minang, Syam membaca versi bahasa Sunda. Dan saya, dengan berkonsultasi bersama seseorang, menerjemahkannya ke dalam bahas Aceh. Saya masuk dalam ruang rekaman rombongan terakhir.

Sejak mengenal Bimbo pada 1972 abad lalu, itulah event yg mempertemukan saya dengan Syam Bimbo. Terimakasih Kang Syam yang berkenan berkenalan dengan anak Ragunan, Pasar Minggu ini.

Tapi omong-omong ya, pohon rambutan yang saya naiki itu tak lagi diketahui nasibnya.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA