Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

Aprindo: Kerugian Listrik Mati Lebih dari Rp 200 Miliar

Selasa 06 Aug 2019 20:00 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Teguh Firmansyah

Sebuah toko mengunakan genset ketika mengalami pemadaman listrik, Jakarta, Senin (5/8).

Sebuah toko mengunakan genset ketika mengalami pemadaman listrik, Jakarta, Senin (5/8).

Foto: Republika/Prayogi
Aprindo meyakini blackout berdampak pada 82 pusat perbelanjaan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menghitung dampak kerugian dari blackout atau listrik padam lebih dari Rp 200 miliar pada Ahad (4/8) lalu. Pemadaman listrik berdampak pada puluhan pusat perbelanjaan.

“Saya mau sebutkan yang dilakukan oleh Aprindo, peritel Indonesia, di mana tempat terjadinya transaksi. Angkanya adalah seperti ini, ketika kita dapat blackout, kita hampir kehilangan pendapatan Rp 200 miliar,” kata Ketua Umum DPP Aprindo Roy Mandey saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (6/8).

Setidaknya, menurut dia, insiden blackout berdampak pada 82 pusat perbelanjaan di DKI Jakarta. Ia memperkirakan lebih dari 10 ribu orang gagal ke mal akibat blackout. Perhitungan Rp 200 miliar itu berasal dari rerata pengunjung yang minimal mengeluarkan biaya belanja sebesar Rp 200 ribu.

Secara terpisah, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) memberi kompensasi atas pemadaman listrik yang melanda hampir sebagian besar Pulau Jawa pada Ahad (4/8) senilai Rp 839 miliar.

"Kami berkomitmen tetap memberikan kompensasi dengan hitungan sesuai peraturan undang-undang yang berlaku," kata Plt Dirut PLN Sripeni Inten di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (6/8).

Sripeni menjelaskan total kompensasi sebesar Rp 839 miliar tersebut dari sebanyak 21,9 juta pelanggan yang terdampak pemadaman. Rincian penggantian adalah untuk golongan subsidi akan diberikan kompensasi diskon sebesar 20 persen dari biaya beban. Sementara itu, untuk non-subsidi akan mendapatkan kompensasi sebesar diskon 35 persen dari biaya beban.

Kompensasi tersebut sesuai undang-undang bukan berupa uang tunai, melainkan masuk dalam perhitungan pengurangan pembayaran listrik yang terhitung pada Agustus 2019. Menurut Plt Dirut PLN, besaran tersebut formulasinya sudah sesuai dengan aturan yang berlaku.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA