Minggu, 23 Muharram 1441 / 22 September 2019

Minggu, 23 Muharram 1441 / 22 September 2019

Kemenko Perekonomian: Pelemahan Yuan Bukan Kesengajaan

Selasa 06 Agu 2019 14:49 WIB

Rep: Adinda Pryanka / Red: Friska Yolanda

YUAN. Seorang warga melintasi kantor penukaran uang asing yang dihiasi gambar uang berbagai negara di Hong Kong, Selasa (6/8). Nilai tukar yuan Cina merosot tajam atas dolar AS sebagai akibat dari perang dagang dengan Amerika Serikat.

YUAN. Seorang warga melintasi kantor penukaran uang asing yang dihiasi gambar uang berbagai negara di Hong Kong, Selasa (6/8). Nilai tukar yuan Cina merosot tajam atas dolar AS sebagai akibat dari perang dagang dengan Amerika Serikat.

Foto: AP Photo/Kin Cheung
Pelemahan yuan akan membuat barang Cina lebih unggul di pasar internasional.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Menko Perekonomian Iskandar Simorangkir menilai, kondisi nilai tukar Yuan terhadap dolar AS yang  merosot tajam bukan sebagai retaliasi terhadap perang dagang. Kondisi tersebut merupakan dampak suplai valuta asing (valas) yang turun sehingga turut mengerek Yuan.

Iskandar menjelaskan pelemahan Yuan merupakan isu lama yang sudah terjadi di perekonomian global. Penyebab utamanya, kinerja ekpsor yang turun sehingga pertumbuhan ekonominya pun melambat menjadi 6,2 persen pada kuartal kedua, terendah dalam 27 tahun. "Jadi wajar kalau (Yuan) melemah, tuturnya ketika dihubungi Republika.co.id, Selasa (6/8).

Baca Juga

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuduh Cina telah secara sengaja melemahkan mata uangnya melalui media sosial Twitter. "Langkah tersebut dilakukan untuk mencuri bisnis dan pabrik, melukai lapangan kerja, dan menekan tenaga kerja juga harga para petani kita. Tak akan lagi!," ucap Trump dalam akun Twitternya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution tidak berani menyebutkan pelemahan Yuan terhadap dolar AS belum tentu merupakan kesengajaan. Tapi, dalam kondisi perang dagang, setiap negara terlibat dapat saja membuat kebijakannya sendiri.

"Cina boleh saja nggak usah membalas dengan menaikkan lagi tingkat (tarif impor), Yuannya saja yang dilemahkan oleh mereka," katanya ketika ditemui di Gedung  Kemenko Perekonomian, Jakarta.

Atas pelemahan Yuan, Darmin menjelaskan, barang Cina akan lebih unggul di pasar internasional Sebab, produk dari Negeri Tirai Bambu ini akan lebih murah saat dijual dibandingkan dari negara lain. Oleh karena itu, rencana pengenaan tarif 10 persen dari pemerintah AS tidak akan berdampak signifikan terhadap ekonomi Cina.

Hanya saja, Darmin menambahkan, pelemahan Yuan tentu akan berdampak kepada mata uang negara lain yang berpotensi ikut ‘tertarik’ ke bawah. Tapi, ia tidak dapat memastikan apakah pola pelemahan ini bersifat temporer atau jangka panjang. Hal ini tergantung pada seberapa lama pertumbuhan ekonomi Cina melemah.

Pada Selasa pagi, nilai tukar yuan di pasar luar negeri terpantau jatuh hingga level 7,126 per dolar AS. Angka tersebut menjadi nilai terendah dalam satu dekade terakhir pada perdagangan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA