Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Pentingnya Mitigasi Energi di Bidang Pariwisata

Selasa 06 Aug 2019 01:46 WIB

Red: Elba Damhuri

Taufan Rahmadi

Taufan Rahmadi

Foto: Republika/ Wihdan
Jumlah kunjungan ke destinasi wisata juga turun drastis akibat padamnya listrik.

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh Taufan Rahmadi, Penggiat Pariwisata Indonesia/Founder Temannya Wisatawan

Dua hari terakhir masyarakat Jakarta dan segian besar Pulau Jawa sedang diuji dengan masalah yang sama: mati lampu. Lebih parahnya lagi, kejadian ini melanda ibu kota, tempat banyaknya sistem di negara ini berpusat, yang semua sangat bergantung pada pasokan energi listrik. Sistem komunikasi, IT, perbankan, transportasi, dan lainnya, ikut terganggu bahkan berhenti akibat masalah padamnya listrik yang terjadi dalam 2 hari ini, termasuk sektor pariwisata.

Berita-berita yang beredar, menginformasikan bahwa milyaran rupiah kerugian terjadi di sektor perhotelan akibat sistem perbankan yang bermasalah karena terputusnya pasokan listrik. Pengguna hotel yang sebagian besar menggunakan sistem pembayaran online kesulitan melakukan transaksi perhotelan.

Jumlah kunjungan ke destinasi wisata juga turun drastis akibat padamnya listrik. Ketiadaan pasokan listrik menyebabkan sejumlah amenitas di destinasi tidak bisa berfungsi. Selain itu padamnya listrik juga mengganggu sistem transportasi, yang berimbas pada berkurangnya kunjungan ke destinasi.

Satu-satunya destinasi yang mungkin masih ramai dikunjungi adalah mall, karena ketersediaan sumber listrik cadangan berupa generator set (genset) di mall-mall tersebut.

Bayangkan, kerugian yang terjadi selama 2 hari padamnya listrik ini, dengan menghitung luas wilayah Pulau Jawa yang terkena dampak, serta bagaimana vitalnya wilayah-wilayah yang terkena dampak tersebut.

Mengantisipasi terjadinya kasus serupa di masa depan, harusnya pemerintah mulai memikirkan alternatif sumber pasokan listrik yang baru. Baik itu dengan membangun pembangkit-pembangkit listrik baru, atau bekerjasama dengan pihak ke-3 untuk memasok listrik yang dibutuhkan masyarakat dan destinasi. Sehingga, masyarakat tidak lagi hanya bergantung pada PLN sebagai pilihan utama pasokan listrik.

Pemerintah, bekerjasama dengan berbagai stakeholder semestinya sudah harus memikirkan pula mengenai pembangkit listrik mandiri yang memegang teguh prinsip sustainable tourism dan ramah lingkungan, dengan memperhatikan potensi-potensi yang ada di setiap daerah, seperti pembangkit listrik mikro hidro pada aliran sungai dan air terjun, atau pembangkit lidtyrik tenaga gelombang air laut tenaga angin, atau tenaga surya pada daerah-daerah yang memungkinkan.

Destinasi-destinasi pariwisata yang memiliki permasalahan dengan sampah bisa memanfaatkan atau mengkonversikan gas yang dihasilkan menjadi energi biomass seperti yang sudah dilakukan di negara-negara yang sudah maju dengan pariwisatanya.

Dengan peristiwa padamnya listrik se-Jabodetabek, Jabar dan sebagian jateng ini bisa menjadikan pembelajaran bahwa para stakeholder dalam industri pariwisata sudah waktunya untuk berinovasi dalam mempersiapkan contigency plan, menciptakan sumber daya listrik mandiri dengan menggunakan energi terbarukan.

Adanya sumber listrik mandiri ini, akan menyebabkan hotel,  restaurant, wahana-wahana wisata, transportasi, transaksi bisnis pariwisata bisa dan harus tetap beroperasi meski saat terjadi blackout. Ini adalah tantangan bagi dunia pariwisata , selain mempersiapkan mitigasi bencana juga harus mulai berinovasi dengan mitigasi energi demi menjamin layanan terbaik bagi para wisatawan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA