Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Listrik Padam, Ritel Telan Kerugian Rp 200 Miliar

Senin 05 Aug 2019 16:58 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Friska Yolanda

Pedagang menunggu pembeli di kawasan Pasar Baru yang mengalami pemadaman listrik, Jakarta, Senin (5/8/2019).

Pedagang menunggu pembeli di kawasan Pasar Baru yang mengalami pemadaman listrik, Jakarta, Senin (5/8/2019).

Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Biaya operasional ritel membengkak karena harus menggunakan genset.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyayangkan pemadaman listrik yang terjadi akibat blackout, pada Ahad (4/8) kemarin. Aprindo menyebut potensi kerugian material ritel ditaksir lebih dari Rp 200 miliar. 

Baca Juga

Jumlah tersebut dihitung berdasarlan total 82 pusat perbelanjaan, 2.500 lebih toko ritel modern swa kelola di Jakarta. Ketua Umum Aprindo Roy Mandey menyatakan, PT PLN seharusnya memberi pengumuman terlebih dahulu kepada pelaku usaha agar bisa mempersiapkan cara tetap memberi pelayanan maksimal kepada konsumen. Di sisi lain masyarakat pun tetap bisa mendapat haknya sebagai konsumen.

“Potensi kehilangan penjualan terlihat betul karena masyarakat akhirnya enggan atau membatalkan keinginan berbelanja,” ujarnya dalam keterangan pers, Senin (5/8). 

Dia melanjutkan, kerugian dihitung dari faktor utama pemadaman pada Ahad, dimana banyak masyarakat yang justru menghabiskan waktu luangnya di gerai ritel modern atau pusat perbelanjaan. Dia melanjutkan, biaya operasional juga ikut membengkak karena beberapa gerai menggunakan genset diesel agar bisa tetap buka melayani masyarakat.

"Demi kenyamanan konsumen, kami menggunakan genset diesel berbahan bakar solar yang tentu berimbas pada naiknya biaya operasional, dan itu seharusnya tidak perlu kami keluarkan," kata dia. 

Roy mengatakan PLN sebagai satu-satunya perusahaan yang menyuplai listrik seharusnya bisa bertindak lebih cepat dan tanggap apabila ada gangguan di gardu listrik sebagaimana yang diberitakan. Pihaknya setuju bahwa seharusnya PLN mempunyai sistem mumpuni untuk mengantisipasi masalah semacam back up plan yang reaktif terhadap gangguan dan contigency plan yang terencana. 

Dia menilai pemadaman listrik yang berlangsung lama dan mencakup area yang cukup luas berdampak pada pelaku usaha dan masyarakat sebagai pelanggan PLN. Kenyamanan masyarakat juga dinilai terganggu karena fasilitas yang seharusnya mereka dapatkan tidak bisa berfungsi normal, seperti jaringan pembayaran elektronik, kualitas produk yang bisa menurun, dan sebagainya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA