Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Polusi Udara Kota Bekasi Terkadang Lebih Parah dari Jakarta

Senin 05 Aug 2019 02:17 WIB

Rep: Febryan. A/ Red: Andri Saubani

Pengendara motor melintasi shelter ojek Online di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Jumat (2/8/2019).

Pengendara motor melintasi shelter ojek Online di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Jumat (2/8/2019).

Foto: Antara/Fakhri Hermansyah
Polusi udara terparah di Kota Bekasi pada Sabtu lalu terjadi pukul 23.00 WIB.

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Kualitas udara DKI Jakarta mendapatkan sorotan tajam dalam beberapa waktu terakhir. Pasalnya, Air Quality Index (AQI) DKI sempat menjadi yang terparah di dunia berdasarkan data AirVisual. Namun, ternyata polusi udara Kota Bekasi tak kalah buruk dibandingkan udara ibu kota.

AirVisual melaporkan, kualitas udara Kota Bekasi pada Sabtu (3/8) pukul 20.00 WIB berada di angka 153 berdasarkan US Air Quality Index (AQI) atau indeks kualitas udara. Pada waktu bersamaan, kualitas udara DKI Jakarta berada di angka 147.

Polusi udara terparah di Kota Bekasi pada Sabtu lalu terjadi pukul 23.00 WIB. Tercatat indeks kualitas udara Kota Patriot di angka 178. Sementara itu, DKI Jakarta pada waktu bersamaan hanya mencatatkan angka 153.

AirVisual merupakan situs daring penyedia peta polusi di dunia. AQI menjadi indeks yang menggambarkan tingkat keparahan kualitas udara di suatu wilayah.

Rentang nilai AQI mulai dari 0 sampai 500. Angka 0-50 adalah kualitas udara berkategori baik. 51-100 berkualitas sedang. Nilai 101-150 menunjukkan kulaitas udara tidak sehat untuk kelompok sensitif sperti orang yang mengidap penyakit paru dan jantung ataupun orang lanjut usia. Sedangkan nilai 151-200 masuk dalam kategori tidak sehat bagi semua orang.

Pelaksana Tugas Harian (plh) Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi Kustantinah mengatakan, perhitungan setiap lembaga berbeda-beda. Menurut dia, kulitas udara Kota Bekasi masih terbilang aman. Meski ia tak menyebutkan angka pastinya.

"PM 10 kita biasnya (pakai). Paling tinggi berpengaruh itu kita ya PM 10. Selain itu masih aman," kata Kustantinah, Ahad (4/8).

PM 10 atau partikel debu berukuran 10 mikron merupakan salah satu indikator yang digunakan AirVisual. Sedangkan situs AirVisual dalam mengukur indeks kulitas udara juga menggunakan indikator PM 2,5 atau debu berukuran lebih kecil yang lebih gampang masuk ke dalam saluran pernafasan manusia. Ditambah lagi indikator karbon monoksida, asam belerang, nitrogen dioksida, dan ozon permukaan tanah.

Meski demikian, Kustantinah mengaku mungkin saja kulaitas udara Kota Bekasi menjadi sangat buruk pada waktu-waktu tertentu dibandingkan DKI Jakarta. Pasalnya indeks PM 10 Kota Bekasi, kata dia, meningkat ketika pagi dan sore hari. Hal itu dikarenakan debu dari kendaraan menuju dan dari Jakarta.

Selain itu, sambung dia, kegitan pembangunan sejumlah proyek strategis nasional di wilayah setempat ditenggarai juga ikut menyumbang debu yang semakin mencemari udara. Kustantinah menambahakan, polusi udara di Kota Bekasi kemungkinan juga dipengaruhi polusi udara di DKI Jakarta.

"Kalau udara kan kita lihat arah aliran angin, ya," kata dia.

Ketua Umum Koalisi Kawal Lingkungan Hidup Indonesia (Kawali), Puput TD Putra mengatakan, memburuknya kualitas udara di Kota Bekasi tidak hanya disebabkan pergerakan kendaraan menuju ibu kota setiap harinya. Aktivitas sejumlah industri yang ada di Kota Bekasi juga turut memperparah pencemaran udara.

"Bekasi sebagai kota industri harus menjadi perhatian khusus dari pemerintah dan warganya," ucap Puput.

Terkait polusi udara Kota Bekasi yang diduga karena terbawa angin dari DKI Jakarta, Puput berpendapat sebaiknya setiap kota jangan saling klaim mendapat polusi kiriman. "Padahal masing-masing wilayahnya penyumbang polusinya sendiri," kata Puput.

Dia berharap, upaya saling klaim itu disudahi. Langkah yang harus diambil, kata dia, adalah setiap kota saling berbenah diri dalam mengelola lingkungannya untuk terus menekan polusi udara.

"Harusnya semua pihak mau mengakui dan berbenah," ucapnya.

Kabid Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi, Dezy Syukrawati mengimbau warga Kota Bekasi untuk lebih menjaga kesehatan dari udara yang tercemar. Warga diharapkan untuk menggunkan masker ketika beraktifitas di luar ruang.

"Panas, debu kegiatan pembangunan, dan polusi kendaraan itu yang cukup mengganggu kesehatan kita," kata Dezy.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Bekasi, tercatat penderita infeksi saluran pernafasn akut (ISPA) pada bulan Maret sebanyak 154 orang. April 137 orang. Dan melonjak ke angka 191 orang pada bulan Mei.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA