Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

AS Ingin Tempatkan Rudal Jarak Menengah di Asia

Sabtu 03 Aug 2019 19:23 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah

Menteri Pertahanan AS Mark Esper di Washington.

Menteri Pertahanan AS Mark Esper di Washington.

Foto: AP Photo/Andrew Harnik
AS akan mengembangkan rudal balistik jenis baru.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) berencana menempatkan rudal jarak menengah di Asia. Hal itu diumumkan setelah AS resmi hengkang dari perjanjian nuklir Intermediate Range Nuclear Forces (INF).

“Ya, saya ingin,” kata Menteri Pertahanan AS Mark Esper saat ditanya apakah dia mempertimbangkan menempatkan rudal jarak menengah di Asia, Sabtu (3/8).

Dia menginginkan hal itu dapat direalisasikan dalam waktu beberapa bulan. “Tapi hal-hal ini cenderung memakan waktu yang lebih lama dari yang Anda perkirakan,” ujarnya.

Esper belum memberitahu di mana rudal-rudal itu akan ditempatkan di Asia. Dia hanya menyatakan akan melakukan pertemuan dengan para pemimpin di Asia selama melakukan kunjungan ke sana.

Komentar Esper kemungkinan akan meningkatkan kekhawatiran tentang perlombaan senjata baru seperti era Perang Dingin. Hal itu juga dinilai akan menambah ketegangan hubungan antara AS dan Cina.

Sebelumnya, Esper telah mengumumkan AS akan mengembangkan rudal balistik jenis baru. “Sekarang setelah kami mundur, Departemen Pertahanan akan sepenuhnya mengejar pengembangan rudal konvensional yang diluncurkan di darat ini sebagai respons yang bijaksana terhadap tindakan Rusia dan sebagai bagian dari portofolio opsi serangan konvensional yang lebih luas dari Pasukan Gabungan,” katanya.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo telah mengumumkan penarikan negaranya dari INF. Dia mengatakan runtuhnya perjanjian tersebut adalah tanggung jawab penuh Rusia.

Pompeo mengatakan Rusia mengembangkan sistem rudal yang dilarang di bawah INF. Rudal tersebut pun merupakan ancaman langsung terhadap AS dan sekutunya. Menurutnya, Moskow memiliki waktu enam bulan untuk memperbaiki ketidakpatuhannya. Namun AS mengklaim, Rusia tak melakukan hal tersebut.

Rusia membantah melanggar INF. Oleh sebab itu, ia menilai mundurnya AS dari perjanjian tersebut adalah sebuah kesalahan serius.

INF ditandatangani AS dan Uni Soviet pada 1987. Perjanjian tersebut melarang kedua belah pihak memproduksi atau memiliki rudal nuklir dengan daya jangkau 500-5.500 kilometer.

Baca Juga

Keputusan AS dan Rusia menangguhkan keterikatannya dalam INF telah memicu kekhawatiran negara-negara Eropa. Sebab selama ini, INF telah dianggap sebagai fondasi keamanan di kawasan tersebut.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA