Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Jutaan Warga Suriah Minta Negaranya Bebas dari Terorisme

Sabtu 03 Aug 2019 23:43 WIB

Red: Ani Nursalikah

Sukarelawan White Helmets mencari korban setelah ledakan di Idlib, Suriah, April lalu.

Sukarelawan White Helmets mencari korban setelah ledakan di Idlib, Suriah, April lalu.

Foto: EPA/Mohammed Badra
Suriah menggelar pembicaraan di Kazakhstan tentang perang di negaranya.

REPUBLIKA.CO.ID, NUR-SULTAN -- Kepala delegasi Suriah di pembicaraan Kazakhstan Bashar Al-Jaafari mengatakan Suriah takkan menunggu selamanya sampai rezim Turki melaksanakan kewajibannya sejalan dengan ketentuan Astana dan Kesepakatan Sochi mengenai Idlib. Ia menekankan jutaan warga Suriah di Provinsi Idlib memohon kepada pemerintah Suriah agar membebaskan mereka dari terorisme.

Al-Jaafari mengatakan dalam satu taklimat pada akhir pembicaraan babak ke-13 di Astana mengenai penyelesaian krisis di Suriah. "Kami telah melakukan pembicaraan intensif dengan penjamin Iran dan Rusia dan pertemuan lain di sisi pertemuan Astana. Semuanya penting dan memberi dampak positif pada komunike akhir, yang dipandang sebagai yang terbaik buat Suriah melalui jalur Astana dalam hal isi politiknya dan cara jalur tersebut melakukan pendekatan pada situasi di Suriah," katanya.

Al-Jaafari menekankan rezim Turki terus menduduki beberapa bagian Suriah dalam pelanggaran terhadap ketentuan Astana. Ia menunjuk kepada pelaku teror yang didukung rezim Turki terus mencuri relik dari Afrin ke Turki.

Diplomat senior Suriah itu juga mengatakan Suriah, yang didukung oleh sekutunya, berhasil mengusir ISIS dan banyak kelompok teror lain dari wilayahnya. Ia menambahkan setiap klaim mengenai apa yang dinamakan koalisi tidak benar. Dia menegaskan penguasa pendudukan Israel terlibat dalam rancangan teroris yang mengincar Suriah dan terus mendukung kelompok teroris di negeri tersebut.

Al-Jaafari menjelaskan Suriah mendesak semua pihak dalam pembicaraan Astana agar memikul tanggung-jawab mereka dan menekan Turki agar melaksanakan ketentuan Astana dan Kesepakatan Sochi mengenai Idlib. Kepala delegasi Suriah juga mengatakan baik Turki maupun Amerika Serikat tidak berhak untuk berbicara mengenai setiap jengkal wilayah Suriah, sementara mereka melanggar hukum internasional dan Piagam PBB karena kehadiran tidak sah mereka di wilayah Suriah.

Ia menyampaikan penolakan terhadap setiap klaim separatis oleh pihak mana pun apapun dalih mereka, sebab persatuan bangsa Suriah dan dan koordinasi dengan Pemerintah Suriah adalah dasar buat kontra-terorisme.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA