Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Gempa Besar, Warga Mengungsi

Sabtu 03 Aug 2019 07:04 WIB

Rep: Mursalin Yasland, Arie Lukihardianti/ Red: Muhammad Subarkah

Lokasi gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 berpusat di wilayah perairan Banten.

Lokasi gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 berpusat di wilayah perairan Banten.

Foto: Google
Warga pesisir Lampung mengungsi karena gempa besar.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Gempa bumi dengan getaran yang terasa di berbagai terjadi pada Jumat (2/8) pukul 19.03 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, pusat gempa bumi ada pada kedalaman 10 kilometer, berjarak 137 kilometer barat daya Sumur, Banten, dengan kekuatan 7,4 skala Richter. Gempa sempat memicu kepanikan warga.

Di Lampung, gempa memicu warga Teluk Betung yang bermukim di pesisir Teluk Lampung beramai-ramai mengungsi ke tempat yang tinggi. Arus kendaraan dan mobil yang meluncur dari Teluk Betung ke arah kantor Wali Kota Bandar Lampung, Masjid Agung al-Furqon, dan kantor Gubernur Lampung.

Suasana ramai dan macet, diiringi bunyi klakson mobil dan motor menuju tempat yang tinggi. Selain itu, warga yang tidak membawa kendaraan berjalan kaki mengajak anggota keluarga, anak, dan orang tua ke tempat yang aman, seperti di trotoar jalan dan lapangan terbuka.

“Kami khawatir ada gelombang tsunami. Jadi, warga beramai-ramai mengungsi lagi seperti tsunami yang terjadi akhir tahun lalu. Kami belum berani pulang ke rumah,” kata Ardi, warga Teluk Betung Utara, kepada Republika, Jumat malam.

Warga panik setelah getaran gempa terasa lama saat sedang bersantai di dalam rumah. Sebagian warga masih terbayang dengan bencana gelombang tsunami yang melanda pesisir selatan Provinsi Lampung pada 23 Desember 2018 lalu.

“Lebih baik kami mengungsi daripada tidur di rumah. Khawatir ada tsunami seperti akhir tahun lalu,” kata Tati, warga di Jalan WR Supratman, Teluk Betung. Warga Teluk Betung tampak beramai-ramai menempati selasar Masjid Agung al-Furqon dan lapangan di kantor gubernur.

Sejumlah pasien rawat inap dan rawat jalan di Rumah Sakit Immanuel Jalan Soekarno–Hatta Kota Bandar Lampung juga diungsikan keluar ruangan. “Seluruh pasien dievakuasi ke luar ruangan karena gempa,” kata Susi Edison, yang menemani suaminya berobat di RS Immanuel Kota Bandar Lampung, Jumat (2/8) malam.

Menurut dia, getaran gempa terasa sangat lama saat menunggu berobat. Keluarga pasien dan pasien baik yang rawat jalan maupun rawat inap berhamburan keluar ruangan.

Sementara, Polda Banten mengerahkan 200 personel Brimob Polda Banten untuk berangkat ke Kecamatan Sumur, Pandeglang. "Polda Banten juga telah melaksanakan patroli R2 dan R4 ke arah Kabupaten Cilegon, Kabupaten Pandeglang, dan Kabupaten Lebak," kata Kabid Humas Polda Banten, Kombes Pol Edy Sumardi, Jumat (2/8).

Polda Banten menyiagakan personel di polsek yang ada di pesisir pantai untuk mengimbau masyarakat naik ke dataran tinggi. Selanjutnya rumah-rumah yang ditinggal akan dijaga personel yang patroli.

Hingga Jumat malam pukul 22.00 WIB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pandeglang, Banten, menyatakan belum ada laporan korban ataupun kerusakan akibat.

"Kami sudah minta sama camat Sumur untuk mengevakuasi warga untuk mengantisipasi adanya tsunami," kata Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Pandeglang, Lilis, ketika dikonfirmasi di Pandeglang, Jumat.

Gempa Sumur juga membuat warga pesisir selatan Kabupaten Lebak, Banten, mengungsi ke lokasi dataran tinggi. "Kami bersama warga berlarian ke gunung setelah merasakan getaran besar," kata Edi, seorang warga Bayah saat dihubungi dari Rangkasbitung, ibu kota Kabupaten Lebak, Jumat (2/8) malam. Sampai pukul 21.30 WIB, warga masih banyak yang mengungsi ke dataran tinggi, meninggalkan rumahnya. Warga menunggu waktu yang aman untuk kembali ke rumahnya.

Ketua Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) Banten Ade Ervin menyebutkan, seluruh pantai di wilayah selatan Banten hingga satu jam setelah terjadinya gempa masih tetap aman dan tidak ada kenaikan atau air laut yang surut.

"Saya posisi saat ini di Pantai Carita. Informasi yang kami terima dari seluruh relawan Balawista di pesisir selatan Banten, kondisi saat ini tidak terjadi kenaikan air laut,\" kata Ade Ervin saat dikonfirmasi Antara di Serang, Jumat, sekitar pukul 20.23 WIB.

Ade mengatakan, saat ini relawan Balawista sudah tersebar di seluruh wilayah pesisir selatan Banten, mulai Anyer, Carita, Labuan, Bayah, sampai Sawarna. Laporan yang diterima dari para relawan, tidak ada kenaikan air laut di seluruh pesisir selatan Banten.

Dari kawasan Kabupaten Sukabumi, petugas gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dan unsur Muspika Ciracap melakukan evakuasi terhadap warga yang tinggal di sekitar pesisir Pantai Ujunggenteng.

Kepala Pusat Pengendalian dan Operasi BPBD Kabupaten Sukabumi Daeng Sutisna mengatakan, sejumlah warga dievakuasi ke kantor desa yang lokasinya lebih tinggi.

Sebab gempa

Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian ESDM, Kasbani, serta Unites States Geological Survey (USGS) mencatat gempa bumi pada koordinat 104.806 derajat BT dan 7.29 derajat LS dengan magnitudo M 6.8 pada kedalaman 42.8 km.

Kasbani menjelaskan, gempa bumi berdasarkan lokasi pusat gempa bumi dan kedalamannya terjadi karena aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. \"Pusat gempa bumi berada di laut,\" ujar Kasbani di Bandung, semalam.

Kasbani mengatakan, wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi adalah wilayah pesisir selatan Banten, Jawa Barat, dan Lampung yang pada umumnya disusun oleh batuan sedimen berumur kuarter. Batuan berumur kuarter serta batuan berumur tersier yang telah mengalami pelapukan bersifat urai, lepas, dan belum kompak. "Ini dapat bersifat memperkuat efek guncangan gempa bumi," katanya.

Guncangan gempa bumi terasa di Pandeglang dan pesisir selatan Lampung dengan intensitas III-IV MMI. Gempa bumi juga terasa dengan intensitas II-III MMI di Jakarta, Bandung, Depok, hingga Yogyakarta.

BMKG sempat mengeluarkan peringatan tsunami untuk gempa bumi tersebut. "Pandeglang bagian selatan dengan status ancaman Siaga (ketinggian maksimal 3,0 meter), Pandeglang Pulau Panaitan dengan status ancaman Siaga (ketinggian maksimal 3,0 meter), Lampung Barat- pesisir selatan dengan status ancaman Siaga (ketinggian maksimal 3,0 meter)," demikian dilansir di akun Twitter Humas BMKG.

Sementara, wilayah lain dinyatakan waspada, di antaranya Pandeglang bagian utara, Lebak, Tanggamus Pulau Tabuan, Sukabumi Ujung Genteng, Tanggamus bagian timur, Lampung Selatan Kepulauan Krakatau, Lampung Selatan Kepulauan Legundi, Lampung Barat pesisir tengah, Lampung Barat pesisir utara, Bengkulu Utara Pulau Enggano, Kaur Bengkulu, Lampung Selatan Kepulauan Sebuku, Bengkulu Selatan, Serang Bagian Barat, dan Seluma.

Guncangan gempa membuat beberapa bangunan di Kota Depok juga rusak, salah satunya di Ruko Verbena yang berlokasi di Jalan Boulevard GDC, Kelurahan Tirtajaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok. Salah satu ruko di lokasi tersebut dinding keramiknya terlepas dan jatuh sehingga pecah.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA