Saturday, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Saturday, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Trump akan Kembali Kenakan Tarif Impor kepada Cina

Jumat 02 Aug 2019 02:34 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Hasanul Rizqa

Donal Trump

Donal Trump

Foto: republika
Trump mengumumkan kebijakan tarif baru terhadap impor barang asal Cina via Twitter

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat kejutan. Pada Kamis (1/8) waktu setempat, ia mengumumkan akan mengenakan tarif baru terhadap impor Cina senilai 300 miliar dolar AS. Secara efektif, kebijakan ini akan membebani setiap produk yang dibeli orang AS dari Cina.

Trump mengumumkan rencana tersebut sehari setelah Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dan Perwakilan Dagang AS Robert E Lightizher mengakhiri pembicaraan mengenai perang dagang di Shanghai, Cina. Pertemuan tersebut bertujuan mencapai kesepakatan perdagangan secara komprehensif dengan Negeri Tirai Bambu.

Baca Juga

Rencana pemberian tarif tambahan disampaikan Trump melalui akun media sosialnya.

"Amerika Serikat, pada 1 September, akan mulai memberikan tambahan tarif 10 persen untuk 300 miliar dolar AS yang tersisa dari barang dan produk dari Cina ke negara kami. Ini belum termasuk 250 miliar dolar AS yang sudah dikenakan tarif 25 persen," ujarnya dalam Twitter, seperti dilansir Washington Post.

Pernyataan tersebut segera menghasilkan dampak terhadap pasar saham. Indeks Dow Jones Industrial Average merosot sekitar 300 poin dalam hitungan beberapa menit. Padahal, sebelumnya, saham mengawali hari dengan suasana positif karena para pedagang Wall Street optimistis terhadap kondisi ekonomi AS pascapenurunan suku bunga dari The Fed.

"Kami menyukai kebijakan tarif. Tarif adalah hal yang luar biasa," ujar penasehat Trump, Peter Navarro kepada Fox Business, Kamis (1/8) pagi.

Dalam beberapa hari terakhir, pejabat Gedung Putih tampak puas dengan lambatnya perundingan dengan Cina. Pada pekan lalu dan pekan ini, Trump mengatakan, Cina kemungkinan tidak akan menyetujui perjanjian dagang hingga pemilihan presiden AS pada tahun depan. Penyebabnya, Cina ingin melihat apakah Trump akan kembali terpilih atau tidak.

Trump segera bereaksi. Melalui akun media sosial Twitter, ia menuliskan bahwa akan jauh lebih keras terhadap Cina apabila pemerintah setempat membuat perjanjian dagang hingga masa pemilihan. Tapi, ia juga menyebutkan kemungkinan tidak akan pernah menyetujui kesepakatan di kemudian hari. 

Sejumlah ekonom dan tokoh politik AS mengatakan, perang dagang Trump menjadi hambatan besar dalam mengerek pertumbuhan ekonomi AS. Investasi bisnis pada kuartal kedua turun 0,6 persen, mencatat kinerja terburuk selama lebih dari tiga tahun. Ketua Dewan Gubernur The Fed Jerome Powell juga menggambarkan kondisi ekonomi yang sedang tidak pasti.

Sementara itu, mantan penasehat Gedung Putih Gary Cohn menjelaskan, perang dagang tidak akan memberikan dampak positif terhadap AS. Lebih dari itu, semua orang akan kalah dalam peperangan ini. Sebab, perang dagang menimbulkan ketidakpastian secara konsisten yang memperlambat laju investasi.

Cohn juga menyebutkan, pungutan impor membuat produsen AS harus menanggung kenaikan biaya impor produk penting dari Cina. Kondisi ini menghilangkan manfaat dari kebijakan pemotongan pajak Trump yang ditujukan mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA