Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Perang Dagang, Penjualan Ponsel Diprediksi Turun 2,5 Persen

Jumat 02 Aug 2019 01:09 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Hasanul Rizqa

Produk teknologi ponsel pintar Cina (ilustrasi)

Produk teknologi ponsel pintar Cina (ilustrasi)

Foto: VOA
Sebagai pasar ponsel pintar terbesar di dunia, Cina juga terimbas perang dagang

REPUBLIKA.CO.ID, STAMFORD -- Penjualan ponsel pintar terus mengalami penurunan secara global. Proyeksi terbaru dari Gartner menunjukkan, penurunannya mencapai 2,5 persen ke nilai 1,5 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Pukulan terbesar pada industri ini terjadi di Jepang, Eropa Barat dan Amerika Utara yang masing-masing penurunannya adalah 6,5; 5,3 dan 4,4 persen.

Dilansir Tech Crunch, Kamis (1/8), penurunan tersebut merupakan dampak dari tren ekonomi global yang sudah terlihat beberapa kali sebelumnya. Siklus ekonomi dan perdagangan yang melambat akibat perang dagang Amerika Serikat dengan Cina membuat harga ponsel menjadi buruk. Bahkan, Cina sebagai pasar ponsel pintar terbesar di dunia harus mengalami penurunan pada tahun ini karena harus menghadapi tantangan ekonomi.

Baca Juga

Kebijakan Amerika Serikat (AS) yang melarang produk Huawei diketahui juga berdampak pada penurunan penjualan ponsel pintar. Kondisi ini terjadi meskipun Huawei sendiri terus tumbuh berkat adopsi yang terus sehat di pasar dalam negeri. Untuk pasar luar negeri, Huawei masih harus menderita karena terpaksa memutuskan akses ke perusahaan-perusahaan yang berbasis di AS.

Kondisi penurunan juga terjadi pada produsen asal Korea Selatan, LG. Penjualannya turun 21,3 persen pada kuartal kedua ini dibanding dengan kuartal kedua tahun lalu. Penyebabnya, pelambatan keseluruhan pasar global, ditmabah dengan pemotongan permintaan yang agresif dari China.

Penurunan juga tidak dapat lepas dari Samsung. Perusahaan berbasis Seoul ini mengalami penurunan laba hingga 42 persen secara tahunan. "Penyebabnya, penjualan Galaxy 21 yang menghadapi masa penjualan yang lemah," seperti dikutip di The Verge, Selasa (30/7).

Direktur penelitian senior di Gartner, Roberta Cozza, menjelaskan, pukulan terbesar terjadi pada ponsel kelas atas dengan terjadinya kelebihan pasokan. Penyebabnya, harga jual rata-rata yang lebih tinggi, namun tidak menjual utilitas atau pengalaman baru yang menarik bagi pengguna.

"Vendor yang terutama mengandalkan penjualan smartphone akan terus menghadapi masa sulit," tuturnya dalam rilis.

Di tengah kondisi yang memburuk, ada satu kabar baik bagi produsen. Pada paruh kedua, diperkirakan terjadi pertumbuhan yang didorong oleh ponsel teknologi 5G. Perangkat pertama diprediksi mulai masuk ke pasar tahun ini, termasuk LG, Samsung hingga Xiaomi. Mereka akan menawarkan beberapa paket layanan 5G dengan harga agresif.

Namun, Cozza menjelaskan, dampak kehadiran ponsel 5G baru dapat dirasakan secara lebih signifikan pada 2020. Sebab, pada tahun depan, cakupan dan ketersediaan layanan perangkat keras 5G akan meningkat dibandingkan tahun ini.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA