Minggu, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 Januari 2020

Minggu, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 Januari 2020

Rendahnya Skor PISA Jadi Keprihatinan

Selasa 30 Jul 2019 16:27 WIB

Red: Fernan Rahadi

Peserta mengikuti salah satu kegiatan workshop Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang.

Peserta mengikuti salah satu kegiatan workshop Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang.

Foto: Republika/Wilda Fizriyani
Metode pengujian cenderung mengukur kapasitas hafalan yang tidak signifikan.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Rendahnya skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia kembali jadi sorotan belakangan ini. Skor PISA Indonesia tidak mengalami perkembangan signifikan dalam kurun waktu 15 tahun, yakni selalu di bawah angka 400. Sementara itu, semua negara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) punya rata-rata di atas 500.

“Ini tentu jadi keprihatinan karena skor PISA digunakan untuk mengukur kualitas kebijakan pendidikan yang berfokus pada aplikasi pengetahuan siswa terhadap masalah nyata dalam konteks dunia terkini,” ujar pengamat pendidikan, Muhammad Nur Rizal, dalam workshop Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di Kantor Wali Kota Tangerang Selatan akhir pekan lalu.

Sementara itu, sistem pendidikan Indonesia masih mengacu pada standardisasi yang memungkinkan pengadaan berbagai ujian untuk siswa. Seorang siswa bisa menghadapi lebih dari 100 ujian dalam satu tahun dan metode pengujian cenderung mengukur kapasitas hafalan yang tidak signifikan dengan kebutuhan zaman.

“Jika tidak dipedulikan, ini bisa menjadi masalah untuk generasi muda karena PISA digunakan untuk mengukur kesiapan siswa dalam menghadapi ketidakpastian di masa depan. Sistem pendidikan kita tidak nyambung dengan segala kebutuhan di era industri 4.0,” sambungnya.

Rendahnya kualitas sains ini diakibatkan oleh metode pengajaran yang meskipun kurikulum berganti (Kurikulum 2013 berbasis saintifik), pada kenyataannya masih berpusat pada guru. Metode ini kurang memberikan ‘oksigen’ bagi siswa untuk bereksplorasi, berefleksi serta memecahkan persoalan melalui proyek penelitian. 

Guru selama ini lebih gemar mengevaluasi siswa dengan nilai ujian, alih-alih penilaian berbasis umpan balik pada setiap proses pembelajaran siswa. Kebijakan dan metodologi lama ini tidak dapat menghasilkan siswa yang mampu berpikir kritis, ilmiah, serta profesional pada keilmuannya.

Skor PISA yang rendah ini berkorelasi pada temuan lanjut PISA, yakni hanya sekitar satu persen saja orang dewasa di Jakarta yang memiliki kemampuan berpikir aras tinggi (high order thinking), sekaligus mampu mengerjakan persamaan matematika dalam banyak langkah.

“Mempertimbangkan rentannya dampak sosial dunia digital, lemahnya keterampilan berpikir kritis ini memberikan oksigen bagi suburnya penyebaran berita bohong (hoaks), ujaran kebencian, hingga isu radikalisme di Indonesia,” ujarnya.

Kehadiran GSM di Tangerang Selatan mendapatkan dukungan dari Wali Kota Tangerang, Airin Rachmi Diany. Semula, Airin mengutamakan pembangunan sarana dan prasarana. Tetapi kini sudah menyadari pentingnya pengembangan sumber daya manusia di bidang pendidikan.

“Di periode pertama, saya membangun sarana dan prasarana. Sekarang, yang kedua, bagaimana peningkatan sumber daya manusia. Ini akan terus saya dorong. Ini baru beberapa ratus guru, nanti saya minta semua guru di Tangerang Selatan nanti akan menerapkan gerakan ini,” kata Airin.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA