Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Kandidat Presiden AS Ingin Pangkas Bantuan Militer Israel

Selasa 30 Jul 2019 05:05 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah

Mantan kandidat calon presiden Partai Demokrat AS Bernie Sanders berbicara di hari pertama Konvensi Nasional Demokrat di Philadelphi, Senin, 25 Juli 2016.

Mantan kandidat calon presiden Partai Demokrat AS Bernie Sanders berbicara di hari pertama Konvensi Nasional Demokrat di Philadelphi, Senin, 25 Juli 2016.

Foto: AP Photo/Carolyn Kaster
Bernie Sanders merupakan tokoh yang vokal mengkritik Netanyahu.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Kandidat calon presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat Bernie Sanders akan mempertimbangkan pemangkasan bantuan militer untuk Israel jika terpilih dalam pilpres AS 2020. Dalam sebuah wawancara, seperti dikutip laman The Times of Israel, Senin (29/7), Sanders diberitahu AS memberi bantuan militer sebesar 3,8 miliar dolar AS kepada Israel.

Baca Juga

Kemudian pertanyaan diajukan padanya, apakah dia akan mempertimbangkan menggunakan dana itu sebagai pengaruh untuk mengubah sikap dan tindakan Israel. Sanders pun menjawab, “Tentu saja.”

Senator Vermont itu mengungkapkan dia memiliki keluarga di Israel. “Saya orang Yahudi, saya bukan anti-Israel. Saya percaya rakyat Israel memiliki hak mutlak untuk hidup dalam kedamaian, kemerdekaan, dan keamanan. Titik. Itulah yang saya yakini dengan sungguh-sungguh,” ucapnya.

Namun dia mengkritisi Israel di bawah pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. “Saya pikir apa yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir di bawah Netanyahu, Anda memiliki pemerintahan sayap kanan ekstrem dengan banyak kecenderungan rasialis,” ujar tokoh berusia 77 tahun tersebut.

Dia mengatakan kebijakan AS terhadap Israel tidak bisa bersifat satu dimensi, tapi harus lebih holistik. Washington harus bisa mengambil keputusan yang memberi manfaat, tidak hanya untuk AS, tapi juga kawasan, termasuk Palestina.

“Ini bukan hal mudah untuk mencoba akhirnya membawa perdamaian ke Timur Tengah dan memperlakukan rakyat Palestina dengan semacam rasa hormat dan martabat yang layak mereka dapatkan. Kebijakan kami tidak bisa hanya pro-Israel, pro-Israel, pro-Israel. Kebijakan itu harus pro-kawasan, bekerja dengan semua orang, semua negara di daerah itu,” kata Sanders.

Dia mengungkapkan AS telah menghabiskan triliunan dolar untuk perang melawan teror. “Dan saya sebagai presiden, ingin duduk di sebuah ruangan dengan kepemimpinan Arab Saudi, kepemimpinan Iran, kepemimpinan Palestina, kepemimpinan Israel, dan menuntaskan beberapa perjanjian yang akan mencoba untuk mengakhiri konflik yang ada di sana selamanya,” ujarnya, seperti dikutip laman Middle East Monitor.

Sanders merupakan tokoh yang vokal mengkritik Netanyahu. Sebelumnya, dia pernah menyebut Netanyahu sebagai seorang rasialis. Pernyataannya menuai kecaman dari anggota parlemen Israel (Knesset), terutama dari Partai Likud.

Sanders pun kerap mengkritik pembangunan permukiman ilegal Israel di Tepi Barat. Pada Juni lalu, Sanders berfoto dengan aktivis IfNowNow sambil memegang tanda bertuliskan “Yahudi Menentang Pendudukan”.

Terkait pemangkasan bantuan militer Israel, Sanders bukanlah orang Demokrat pertama yang mengutarakan hal itu. Pada April lalu, anggota Kongres AS dari Demokrat, Alexandria Ocasio-Cortez telah mengungkapkan hal serupa saat diwawancara di podcast Skullduggery Yahoo.

“Saya pikir ini adalah bagian dari percakapan yang kami lakukan di kaukus kami, tapi saya pikir apa yang sebenarnya kami lihat adalah pendakian otoritarianisme di seluruh dunia. Saya pikir Netanyahu adalah sosok seperti Trump,” kata  Cortez saat ditanya tentang apakah AS harus mempertimbangkan kalibrasi ulang kebijakan Israel-nya.

Paket bantuan militer ke Israel terus meningkat sejak pertengahan 1980-an. Bantuan ini dianggap menjadi kunci aliansi AS-Israel. Pada September 2016, mantan presiden AS Barrack Obama menandatangani nota kesepahaman dengan Netanyahu untuk meningkatkan bantuan militer ke Israel dari 3 miliar dolar AS per tahun menjadi 3,8 miliar dolar AS per tahun selama satu dekade ke depan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA