Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Ekspor Korea Selatan Diprediksi Kembali Melemah

Senin 29 Jul 2019 14:54 WIB

Rep: Adinda Pryanka / Red: Budi Raharjo

Pemrotes Korea Selatan (Korsel) menggunting foto Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dalam protes mengecam Jepang yang membatasi ekspor ke Korsel di depan Kedubes Jepang di Seoul, Korsel, Selasa (23/7).

Pemrotes Korea Selatan (Korsel) menggunting foto Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dalam protes mengecam Jepang yang membatasi ekspor ke Korsel di depan Kedubes Jepang di Seoul, Korsel, Selasa (23/7).

Foto: AP Photo/Ahn Young-joon
Bank Korea turunkan suku bunga di tengah penurunan perkiraan pertumbuhan.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL –- Ekspor Korea Selatan kemungkinan akan kembali jatuh pada Juli. Apabila terjadi, ini akan menjadi penurunan ekspor untuk bulan kedelapan selama berturut-turut dengan kecepatan yang diprediksi melambat.

Penyebabnya, keretakan hubungan dagang dengan Jepang yang semakin menyeret ekonomi Korea Selatan. Sebelumnya ekspor Korea terdampak pelemahan permintaan global dan perang tarif China-Amerika Serikat (AS). Proyeksi ini disampaikan dalam sebuah jajak pendapatan Reuters yang dilansir pada Senin (29/7).

Ekspor pada Juli diprediksi berkontraksi 11,3 persen dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya, menurut estimasi rata-rata dari 18 ekonom. Angka ini lebih baik dari penurunan Juni yang mencapai 13,7 persen atau penurunan terbesar dalam kurun waktu 3,5 tahun.

Tapi, Ekonom dari Eugene Investment&Securities Lee Sang-jae menjelaskan, sulit untuk melihat kontraksi yang lebih kecil pada Juli sebagai tanda pemulihan.

Jajak pendapat Reuters juga memperkirakan, impor Korea Selatan bulan ini akan turun 8,1 persen dibanding dengan tahun lalu. Proyeksi ini muncul seiring dengan pembatasan ekspor Jepang terhadap produk chip utama dan bahan baku layar display gawai serta permintaan domestik yang lemah.

Selama 20 hari pertama di bulan Juli, pengiriman dari Korea Selatan tercatat turun tajam 13,6 persen dari tahun sebelumnya, sementara impor turun 10,3 persen. Dari total tersebut, permintaan dari Jepang menurun 14,5 persen.

Negosiator perdagangan China dengan AS direncanakan bertemu di Shanghai pada akhir pekan. Ini sebagai pertemuan pertama mereka sejak gencatan senjata G20 bulan lalu. Tapi, harapan akan adanya perubahan positif sangat kecil.

Pertumbuhan ekonomi Korea Selatan diketahui kembali membaik pada kuartal kedua. Mereka mampu menghindari resesi teknis, meskipun sebagian besar ekspansi didorong oleh pengeluaran pemerintah. Ini menunjukkan kemungkinan bank sentral akan kembali memangkas suku bunga untuk memicu permintaan.

"Kami tentu saja tidka mengesampingkan pemotongan suku bunga lagi apabila data ekonomi terus memburuk," ujar ekonom Continuum Economics, Defa Zhao.

Pada awal Juli, Bank Korea memberikan kejutan dengan menurunkan suku bunga di tengah penurunan perkiraan pertumbuhan tahun ini ke level terendah dalam satu dekade. Perselisihan yang sedang terjadi dengan Jepang menambah tekanan pada ekonomi yang bergantung pada perdagangan.

Secara terpisah, 16 ekonom memprediksi inflasi harga konsumen Korea Selatan naik rata-rata 0,9 persen pada Juli atau naik dari 0,7 persen pada Juni. Sedangkan, Bank Korea memangkas estimasi inflasi menjadi 0,7 persen dari sebelumnya, 1,1 persen.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA